KIPRAH ALAWIYIN DALAM SYIAR ISLAM DI INDONESIA X

Nizla Fatimah Mantiri 20 Desember jam 11:56 BalasLaporkan
SYEKH MUHAMMAD AINUL YAQIN 

Syekh Muhammad Ainul Yaqin yang dikenal juga dengan sebutan Sunan Giri alias Joko Samudero alias Raden Paku alias Prabu Satmoto alias Sultan Abdul Faqih alias Raja Gunung alias Kyai Ngarobi, adalah keturunan ke-24 dari Nabi Muhammad saw. Beliau adalah putera dari Syekh Maulana Ishaq (Sunan Wali Lanang) kakak dari Sayyid Ali Ahmad Rahmatullah (Sunan Ampel) yang menetap di Pasai, Aceh sekarang. Sedangkan ibunya bernama Dewi Sekardadu, adalah putri Prabu Menak Sembuyu, raja Kerajaan Hindu Blambangan. Nasab beliau selengkapnya adalah Syekh Muhammad Ainul Yaqin bin Syekh Maulana Ishaq bin Maulana Jamaluddin Husein alias Maulana Ahmad Jumadil Qubra bin Ahmad Jalaluddin bin Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad SAW. Beliau lahir di Blambangan, Banyuwangi sekarang, pada tahun 1442 M. Masa kecil beliau memiliki kisah yang sangat mengharukan.

Awal kisahnya adalah ketika Maulana Ishaq datang mengunjungi kakaknya Sunan Ampel di Jawa Timur. Sunan Ampel kemudian menyarankan Maulana Ishaq untuk berdakwah ke daerah Blambangan.
Tepat ketika itu, masyarakat Blambangan sedang tertimpa wabah penyakit, bahkan putri Raja Blambangan, Dewi Sekardadu-pun ikut terjangkit. Dengan kerendahan hati Maulana Ishaq mau mengobati Dewi Sekardadu, asalkan Prabu Menak Sembuyu dan keluarganya bersedia masuk Islam. Alhamdulillah Dewi Sekardadu-pun akhirnya sembuh, kemudian puteri Blambangan ini dinikahkan dengan Maulana Ishaq.

Sayangnya, Prabu Menak Sembuyu tidak sepenuh hati menjadi seorang muslim. Malah raja berusaha menghalangi jalannya syiar Islam dengan mengutus orang kepercayaannya untuk berencana membunuh Maulana Ishaq. Hal ini memaksa Maulana Ishaq untuk meninggalkan Blambangan dan kembali ke Pasai. Sebelum berangkat, beliau berpesan kepada isterinya Dewi Sekardadu yang pada saat itu sedang mengandung tujuh bulan, agar kelak anak yang dilahirkan diberi nama Raden Paku. Setelah puterinya melahirkan, Prabu Menak Sembuyu melampiaskan kebenciannya kepada bayi laki-laki mungil tak berdosa tersebut dengan membuangnya ke laut dalam sebuah peti.

Singkat cerita, peti tersebut ditemukan oleh Nyai Ageng Pinatih alias Nyai Semboja dari Gresik. Sejak saat itu bayi laki-laki yang berada didalam peti ini diberinya nama Joko Samudero, kemudian diasuh dan dibesarkannya. Menginjak usia 12 tahun, Joko Samudero dititipkan ke padepokan Ampel Denta, untuk belajar agama Islam.
Karena kecerdasannya, beliau diberi gelar ”Muhammad `Ainul Yaqin”. Selanjutnya, Sunan Ampel mengutus Ainul Yaqin ditemani Makdhum Ibrahim, putra Sunan Ampel untuk menimba ilmu ke Pasai, menemui Maulana Ishaq, ayahnya.

Ketika mereka akan kembali ke Jawa setelah 3 tahun di Pasai, Maulana Ishaq membekali Raden Paku dengan segenggam tanah. Dan memintanya mendirikan pesantren di sebuah tempat yang warna dan bau tanahnya sama dengan yang diberikannya. Sesuai permintaan ayahnya beliau kemudian membuka sebuah pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit berarti “giri”. Maka selanjutnya beliau dijuluki Sunan Giri.

Pesantren Giri kemudian berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri diberi gelar Prabu Satmoto pada 9 Maret 1487 M yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Gresik. Pesantren Giri Kedaton berperan kuat sebagai pusat dakwah Islam di wilayah Jawa dan Indonesia Timur pada kala itu. Para santri pesantren Giri dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Pesantren Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun.

Sunan Giri selain dikenal sebagai ahli politik dan ketatanegaraan beliau juga dikenal ahli dalam ilmu fiqih. Masyarakat menyebutnya sebagai Sultan Abdul Faqih. Beliau diakui sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan setanah Jawa. Beliau adalah anggota pengurus majelis da’wah Wali Songo masa bakti 1463 – 1466 M.

Selain itu beliau juga adalah seorang pencinta karya seni. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran disebut-sebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula dalam bidang sastra seperti Gending Asmarandana dan Pucung yang bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam, adalah juga kreasinya.

Sunan Giri memiliki 3 orang isteri yaitu;
1. Dewi Murtosiyah alias Siti Muntosiyah puteri dari Sunan Ampel
2. Siti Wardah puteri dari Sayyid Iskandar alias Ki Ageng Supa Bungkul alias Sunan Bungkul
3. Syarifah Siti Maimunah
Beliau memiliki beberapa putera, namun yang tercatat adalah Jayengresmi alias Syekh Amongraga, Jayengsari dan Rancangkapti. Sedangkan Raden Fatikhal alias Sunan Prapen yang juga anggota majelis da’wah Wali Songo adalah cucunya.

Sunan Giri wafat pada tahun 1506 M, dalam usia 64 tahun. Ia dimakamkan di Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

BERSAMBUNG
SYEKH MAULANA SYARIF HIDAYATULLAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: