KIPRAH ALAWIYIN DALAM SYIAR ISLAM DI INDONESIA VIII

Nizla Fatimah Mantiri 16 Desember jam 7:42 BalasLaporkan

SYEKH MAULANA MALIK IBRAHIM

Di batu nisan makam seorang Waliullah yang terletak di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur , yang wafat pada 12 Rabiul Awal 822 Hijriah, atau 8 April 1419, pada latarnya tertulis ayat suci Al-Quran dari surat Ali Imran 185, Ar-Rahman 26-27, At-Taubah 21-22, dan Ayat Kursi. Dilengkapi juga dengan rangkaian kata pujian dalam bahasa Arab yang berarti: ”Ia guru yang dibanggakan para pejabat, tempat para sultan dan menteri meminta nasihat. Orang yang santun dan murah hati terhadap fakir miskin. Orang yang berbahagia karena mati syahid, tersanjung dalam bidang pemerintahan dan agama.”

Dari kata-kata tersebut kita bisa merasakan betapa mahabbahnya masyarakat pada saat itu kepada tokoh masyur ini. Siapakah waliullah yang sangat melekat dihati para pengikutnya ini? Beliau tak lain adalah Syekh Maulana Malik Ibraihm. Ia dikenal juga dengan Sunan Gresik, atau Sunan Tandhes, atau Mursyid Akbar Thariqat Wali Songo. Dalam cerita rakyat Jawa terkenal dengan julukan Kakek Bantal. Beliau terkenal sebagai ahli pertanian dan ahli pengobatan.

Maulana Malik Ibrahim diperkirakan lahir di Samarkhand, Asia Tengah, pada paruh awal abad ke-14. Beliau adalah keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad. Ia adalah cucu dari Syekh Jumadil Qubra. Lengkapnya adalah Maulana Malik Ibrahim bin Barakat Zainal Alam bin Maulana Jamaluddin Husein alias Maulana Ahmad Jumadil Qubra bin Ahmad Jalaluddin bin Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad SAW. Nasab ini sesuai dengan catatan dari Bahruddin Ba’alawi Al-Husaini yang kumpulan catatannya kemudian dibukukan dalam Ensiklopedi Nasab Ahlul Bait yang terdiri dari beberapa jilid.

Maulana Malik Ibrahim umumnya dianggap sebagai wali pertama yang mendakwahkan Islam di tanah Jawa. Sebagaimana catatan Drewes dalam bukunya, New Light on the Coming of Islam in Indonesia yang berbunyi ”Ia seorang mubalig paling awal”. Beliau adalah pendiri majelis da’wah yang diberi nama Wali Songo sekitar tahun 1404 Masehi (808 Hijriah).

Ketika Maulana Malik Ibrahim tiba di pulau Jawa daerah yang ditujunya pertama kali adalah desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit pada masa itu. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.
Aktivitas pertama yang dilakukan Sunan Gresik setibanya di Sembalo adalah berdagang dengan cara membuka warung yang menyediakan kebutuhan bahan pokok dengan harga murah. Beliau juga secara khusus menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib beliau pernah diundang untuk mengobati istri raja Majapahit yang bernama Puteri Anarawati yang berasal dari Campa (sekarang Kamboja).

Dalam hubungan sosial Kakek Bantal berupaya merangkul rakyat kebanyakan atau masyarakat kasta terendah dalam agama Hindu yaitu Sudra. Beliau berusaha menarik hati rakyat yang kala itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara yaitu dengan mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Beliau juga membangun pondokan tempat belajar agama di Leran, Gresik.

Dalam kiprah syiarnya Sunan Tandhes berda’wah dengan cara yang penuh bijaksana dan beradaptasi dengan masayarakat disekelilingnya. Agama dan adat istiadat lama tidak langsung ditentangnya dengan frontal atau penuh kekerasan melainkan beliau perkenalkan kemuliaan dan ketinggian akhlak yang diajarkan oleh agama Islam. Beliau langsung memberi contoh nyata kepada masyarakat, dengan menggunakan tutur bahasa yang sopan, lemah lembut, santun pada fakir miskin, hormat pada yang lebih tua dan menyanyangi kaum muda. Perlahan namun pasti ternyata banyak juga rakyat Jawa yang mulai tertarik pada agama Islam yang pada akhirnya mereka menjadi pemeluk agama Islam yang teguh.

Maulana Malik Ibrahim memiliki 3 orang isteri yang masing-masing bernama:
1. Siti Fathimah binti Ali Nurul Alam yang memberinya 2 orang anak yang masing-masing bernama Maulana Moqfaroh dan Syarifah Sarah
2. Siti Maryam binti Syaikh Subakir, dari pernikahan ini lahirlah 4 orang anak yaitu; Abdullah, Ibrahim, Abdul Ghafur, dan Ahmad
3. Wan Jamilah binti Maulana Ibrahim Asmaraqandi, beliau diberi 2 orang anak yaitu Abbas dan Yusuf.

BERSAMBUNG
AS-SAYYID ALI RAHMATULLAH (Sunan Ampel)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: