KIPRAH ALAWIYIN DALAM SYIAR ISLAM DI INDONESIA IX

Nizla Fatimah Mantiri 18 Desember jam 12:42 BalasLaporkan
AS-SAYYID ALI AHMAD RAHMATULLAH (Sunan Ampel) 

Di dalam Tarikh Auliya karya KH. Bisri Mustofa tercantum nama Rahmatullah sebagai keturunan Nabi Muhammad yang ke-23. Beliau adalah putra Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi alias Ibrahim al-Ghazi alias Ibrahim Zainuddin Al-Akbar dengan seorang putri raja Champa yang bernama Dewi Condro Wulan. Beliau adalah anak kedua dari 3 bersaudara. Saudaranya yang lain bernama Ali Murtadho dan Maulana Ishaq. Adapun nasab lengkap beliau adalah sebagai berikut; Ali Ahmad Rahmatullah bin Maulana Ibrahim Asmarakandi bin Maulana Jamaluddin Husein alias Maulana Ahmad Jumadil Qubra bin Ahmad Jalaluddin bin Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad SAW. Beliau lahir di Campa pada tahun 1401 Masehi. Di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Rahmat. Beliau dikenal juga dengan nama Raden Rahmat dan Sunan Ampel.

Kedatangan Rahmat ke Nusantara bermula dengan kunjungan muhibah Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi alias Ibrahim al-Ghazi seorang ulama asal Samarkhand, Asia Tengah yang datang ke Aceh bersama 3 orang puteranya yang bernama Ali Murtadho, Ali Ahmad Rahmatullah dan Maulana Ishaq (Sunan Wali Lanang). Kunjungan anak beranak ini adalah untuk men-syiar-kan islam di tanah Aceh yang dikenal dengan sebutan ”serambi Mekah” .

Tahun 1440 Sunan Ampel didampingi ayahnya, kakaknya Ali Murtadho, dan sahabatnya Abu Hurairah datang berda’wah ke daerah Palembang dan sekitarnya. Rahmatullah mengadakan kunjungan Islami kepada penguasa Palembang, Adipati Arya Damar. Setelah tiga tahun di Palembang, mereka di undang oleh bibi dari Rahmatullah yaitu putri Anarawati alias Dwarawati alias Darwati isteri raja Majapahit yang bernama Prabu Kertawijaya (Brawijaya I) untuk mengunjunginya di pulau Jawa.

Sementara itu di Jawa menurut sejarah dikisahkan bahwa sepeninggal Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, kejayaan Majapahit mengalami samsara (sengsara) yang tiada habis. Perang saudara berkecamuk di mana-mana. Sementara kehidupan a-moral seperti panggung judi, main perempuan, dan mabuk-mabukan menjadi ”kesibukan” harian kaum bangsawan yang diikuti rakyat kebanyakan. Melihat beban berat yang dipikul suaminya Brawijaya V dalam menentramkan bangsanya, Ratu Anarawati kemudian mengundang Sunan Ampel untuk membantu mengatasi prahara yang tengah terjadi di dalam tubuh Majapahit. Inilah alasan yang membuat Rahmatullah datang ke tanah Jawa.

Pada tahun 1443 rombongan mendarat di kota bandar Tuban, ditempat ini mereka tinggal dan berdakwah untuk beberapa lama. Tidak lama kemudian ayah Rahmatullah, Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi wafat. Makamnya kini masih terpelihara di Desa Gesikharjo, Palang, Tuban. Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Trowulan, ibukota Majapahit, menghadap Prabu Kertawijaya. Di sana, Rahmatullah menyanggupi permintaan raja untuk mendidik moral para bangsawan dan kawula Majapahit.

Setelah beberapa waktu tinggal di wilayah kerajaan Majapahit, Brawijaya I kemudian menghadiahkan daerah Ampel Denta yang berawa-rawa kepada Rahmatullah. Beberapa hari sebelum pelaksanaan pemberian hadiah tanah tersebut, berangkatlah rombongan Rahmatullah ke Ampel. Dari Trowulan, melewati Desa Krian, Wonokromo, berlanjut ke Desa Kembang Kuning. Di sepanjang perjalanan, Rahmatullah terus melakukan dakwah.

Ia membagi-bagikan kipas yang terbuat dari akar tumbuhan kepada penduduk. Mereka cukup membayar kipas itu dengan mengucapkan syahadat. Pengikutnya pun bertambah banyak. Sebelum tiba di Ampel, Rahmatullah membangun langgar (musala) sederhana di Kembang Kuning, sekitar 8 kilometer dari Ampel.

Langgar ini kemudian menjadi besar, megah, dan bertahan sampai sekarang. Langgar kemudian diberi nama Masjid Rahmat. Setibanya di Ampel, langkah pertama Rahmatullah adalah membangun masjid sebagai pusat ibadah dan dakwah. Kemudian ia membangun pesantren, mengikuti model Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Format pesantrennya mirip konsep biara yang sudah dikenal masyarakat Jawa.

Dengan penuh kearifan, sabar dan santun, beliau memperkenalkan Islam kepada para penduduk sekitar pondok pesantren. Perlahan namun pasti pada pertengahan Abad 15 pesantren tersebut berkembang pesat dan menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Jadilah Pesantren Ampel Denta, Surabaya, menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam tertua di Jawa. Wilayah ini kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang).

Rahmatullah memang dikenal memiliki kepekaan adaptasi. Caranya menanamkan akidah dan syariat sangat memperhatikan kondisi masyarakat. Kata salat diganti dengan ”sembahyang” (asalnya: sembah dan hyang). Tempat ibadah tidak dinamai musala, tapi ”langgar”, mirip kata sanggar. Penuntut ilmu disebut ”santri”, berasal dari shastri yang artinya orang yang tahu buku suci agama Hindu. Pada para santrinya ia memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah.

Siapa pun, bangsawan atau rakyat jelata, bisa nyantri pada Rahmatullah. Meski menganut mazhab Hanafi, beliau sangat toleran pada penganut mazhab lain. Santrinya dibebaskan ikut mazhab apa saja. Dengan cara pandang netral itu, pendidikan di Ampel mendapat simpati kalangan luas. Setelah selesai menuntut ilmu agama dan dilihat telah mampu ber-syiar, para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura. Dari sinilah sebutan ”Sunan Ampel” mulai populer. Di antara para santrinya adalah Makdum Ibrahim dan Syarifuddin (putera-puteranya sendiri), Ainul Yaqin dan Raden Patah.

Ajarannya yang terkenal adalah falsafah MOH LIMO. Yang artinya tidak melakukan lima hal tercela, yakni;
– moh main (tidak mau judi)
– moh ngombe (tidak mau mabuk)
– moh maling (tidak mau mencuri)
– moh madat (tidak mau mengisap candu)
– moh madon (tidak mau berzina)
Falsafah ini sejalan dengan problem kemerosotan moral warga yang dikeluhkan Prabu Kertawijaya.

Sunan Ampel umumnya dianggap sebagai sesepuh oleh para wali lainnya. Beliau termasuk mubaligh Wali Songo yang tekun dan pantang menyerah. Terbukti ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa tersebut pada tahun 1475 M. Sedangkan pada tahun Saka 1401 atau tahun 1478 M, Sunan Ampel ikut memberikan andil yang tidak sedikit dalam mendirikan Mesjid Agung Demak.

Sunan Ampel memiliki 3 orang isteri, isteri pertamanya bernama Dewi Condrowati ketika masuk Islam berganti nama menjadi Rohana yang bergelar Nyai Ageng Manila, putri adipati Tuban bernama Arya Teja, isteri keduanya bernama Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning sedangkan isteri yang ketiga bernama Nyai Ageng Bela, keponakan Arya Teja. Dari pernikahannya dengan Dewi Condrowati beliau memperoleh 6 orang anak yaitu:
– Siti Syari’ah atau Syarifah
– Siti Muthmainah
– Siti Hafsah
– Maulana Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang)
– Maulana Hasyim Syarifuddin (Sunan Derajat)
Dari pernikahannya dengan Dewi Karimah beliau memperoleh 2 orang anak yaitu:
– Dewi Murtasiyah alias Siti Muntosiyah
– Dewi Murtasimah alias Nyai Ageng Maloka
Sedangkan dari pernikahannya dengan Nyai Ageng Bela
– Raden Faqih (Sunan Ampel 2)
– Maulana Ahmad Husamuddin alias Raden Husamuddin (Sunan Lamongan)
– Raden Zainal Abidin (Sunan Demak)
– Dewi Mursimah alias Asyiqah
– Maulana Abdul Jalil alias Raden Asmoro alias Pangeran Tumapel
Sejak pernikahannya dengan Nyai Ageng Manila, gelar pangeran dengan sebutan raden (dari kata rahadiyan yang berarti tuanku) melekat di depan namanya. Raden Rahmat diperlakukan layaknya keluarga keraton kerajaan Majapahit.

Dikemudian hari anak-anak gadisnya dinikahkan dengan para mubaligh Wali Songo yang masyur seperti;
– Siti Syari’ah atau Syarifah menjadi isteri Sunan Kudus
– Dewi Murtasiyah alias Siti Muntosiyah diperistri Sunan Giri
– Dewi Murtasimah alias Nyai Ageng Maloka menikah dengan Sunan Kota
– Dewi Mursimah alias Asyiqah yang dinikahkan dengan Sunan Kalijaga.

Dalam Babad Gresik disebutkan tahun 1481, dengan candrasengkala ”Ngulama Ampel Seda Masjid” dalam Serat Kanda edisi Brandes yang berarti tahun saka berangka 1406, As-Sayyid Ali Ahmad Rahmatullah menghembuskan napas terakhir. Cerita tutur menyebutkan, beliau wafat saat sujud di masjid. Ia dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, di areal seluas 1.000 meter persegi, bersama ratusan santrinya.

Kompleks makam tersebut dikelilingi tembok besar setinggi 2,5 meter. Makam Sunan Ampel bersama istri dan lima kerabatnya dipagari baja tahan karat setinggi 1,5 meter, melingkar seluas 64 meter persegi. Khusus makam Sunan Ampel dikelilingi pasir putih.

BERSAMBUNG
INFORMASI PERKEMBANGAN PERIODE WALI SONGO TERKINI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: