KIPRAH ALAWIYIN DALAM SYIAR ISLAM DI INDONESIA I

Nizla Fatimah Mantiri 03 Desember jam 12:12 BalasLaporkan

PENDAHULU WALI SONGO

Sering kita mendengar kata Wali Songo yang termasyur dengan 9 wali yang dikenal dengan sebutan Sunan, seperti; Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Kudus, Sunan Giri, Sunan Kali Jogo, Sunan Gresik, Sunan Drajat, Sunan Muria dan Sunan Gunung Jati. Tapi tahukah sahabat bahwa sebenarnya Wali Songo adalah sebuah majelis dakwah yang di prakarsai oleh Sunan Gresik (Syekh Maulana Malik Ibrahim) pada tahun 1404 Masehi (808 Hijriah). Majelis da’wah ini beranggotakan 9 mubaligh yang dalam keanggotaannya selalu mempertahankan jumlah anggota yang tetap 9. Seperti yang terdapat dalam buku Haul Sunan Ampel Ke-555 yang ditulis oleh KH. Mohammad Dahlan;
“…majelis dakwah yang secara umum dinamakan Walisongo, sebenarnya terdiri dari beberapa angkatan. Para Walisongo tidak hidup pada saat yang persis bersamaan, namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, baik dalam ikatan darah atau karena pernikahan, maupun dalam hubungan guru-murid. Bila ada seorang anggota majelis yang wafat, maka posisinya digantikan oleh tokoh lainnya”

Sebelum Wali Songo berkiprah dengan majelis da’wahnya di Indonesia khususnya pulau Jawa dan sekitarnya, peran para Alawiyin telah terlebih dahulu berpengaruh pada awal penyebaran Islam. Mereka dianggap sebagai tokoh pendahulu Wali Songo. Beberapa diantara mereka adalah;
– Syekh Quro
– Syekh Datuk Kahfi
– Syekh Khaliqul Idrus

SYEKH QURO
Syekh Quro atau Syekh Qurotul Ain Pulobata adalah pendiri pesantren pertama di Jawa Barat, yaitu Pesantren Quro di Tanjung Pura, Karawang pada tahun 1428.
Nama asli Syekh Quro ialah Syekh Hasanuddin, ada pula yang menyebutnya dengan Syekh Mursahadatillah.
Syekh Hasanuddin adalah putra seorang ulama besar Perguruan Islam di Champa (Vietnam Selatan) yang bernama Syekh Yusuf Siddiq bin Husain Jamaluddin bin Ahmad Jalaluddin bin Amir Abdullah Khan bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad SAW. Jadi beliau termasuk dalam kaum Alawiyin Hadramaut.

Pada Tahun 1409, Kaisar Cheng Tu dari Dinasti Ming di Cina memerintahkan Laksamana Haji Muhammad Ma Cheng Ho atau Sam Po Kong alias Sampo Po Bo untuk memimpin Armada Angkatan Lautnya dan mengerahkan 63 buah Kapal dengan prajurit yang berjumlah hampir 25.000 orang untuk menjalin hubungan perdagangan dan persahabatan dengan kesultanan Islam di Nusantara.

Dalam Armada Angkatan Laut Tiongkok itu rupanya turut serta Syekh Hasanuddin dengan tujuan untuk mengajar agama Islam di Kesultanan Malaka yang terletak disemananjung Malaka (Malaysia sekarang).

Setelah Syekh Hasanuddin menunaikan tugasnya di Malaka, ia melanjutkan perjalanan ke pulau Jawa dan mendaratlah kapal beliau di pantai Cirebon. Segeralah beliau mengadakan hubungan persahabatan dengan Ki Gedeng Tapa, Syahbandar Muara Jati Cirebon dan sebagai wujud kerjasama itu maka kemudian dibangunlah sebuah menara di pantai pelabuhan Muara Jati. Melalui pelabuhan Muara Jati ia melanjuti da’wah ke daerah lainnya seperti Martasinga, Pasambangan, dan Jayapura.

Ketika kunjungan berlangsung, masyarakat di setiap daerah yang dikunjungi merasa tertarik dengan ajaran Islam yang dibawa Syekh Quro, sehingga akhirnya banyak warga yang memeluk Islam.
Karena dalam da’wah-nya, Syekh Quro memakai pendekatan DA’WAH BIL HIKMAH, sebagaimana firman ALLAH dalam Al-Qur’an Surat XVI (An Nahl ayat 125), yang artinya : “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah (kebijaksanaan) dan dengan pelajaran yang baik, dan bertukar pikiranlah dengan mereka dengan cara yang terbaik”.

Syekh Quro juga turut memegang peranan penting dalam masuknya pengaruh ajaran Islam kedalam keluarga Raden Pamanah Rasa (Sri Baduga Maharaja Ratu Haji Prabu Jaya Dewata – Siliwangi III). Sebab isteri keduanya Nha/Nyai Subang Larang puteri Ki Gedeng Tapa (berarti masih cucu dari Bunisora Suradipati) adalah santriwati pesantren Syekh Quro, sedangkan ketiga anaknya; Walang Sungsang, Nha/Nyai Rara Santang, dan Sangara juga mengikuti agama ibu kandungnya.

Adapun kegiatan Pesantren Quro yang lokasinya tidak jauh dari pelabuhan Karawang, rupanya kurang berkembang karena tidak mendapat dukungan dari pemerintah kerajaan Pajajaran. Sehingga kegiatan di masjid lebih dititik beratkan pada ibadah seperti shalat berjamaah.
Para santri yang telah berpengalaman disebarkan ke pelosok pedesaan untuk mengajarkan agama Islam, terutama di daerah Karawang bagian selatan seperti Pangkalan. Demikian juga ke pedesaan di bagian utara Karawang yang berpusat di Desa Pulo Kalapa dan sekitarnya.

Dalam semaraknya penyebaran agama Islam oleh Wali Songo, maka masjid yang dibangun oleh Syekh Quro, kemudian disempurnakan oleh beberapa Sunan, para ulama dan beberapa umat Islam yang modelnya berbentuk “joglo” beratap 2 limasan, hampir menyerupai Masjid Agung Demak dan Cirebon.

Makam Syekh Quro terdapat di Dusun Pulobata, Desa Pulo Kalapa, Kecamatan Lemah Abang, berada sekitar 30 kilometer ke wilayah timur laut dari pusat kota Karawang, alias kota Lumbung Padi di Jawa Barat itu.
Selain itu, di Dusun Pulobata juga terdapat satu makam yang diyakini warga Karawang sebagai makam Syekh Bentong atau Syekh Darugem, yang merupakan salah seorang santri utama Syekh Quro.

Pada kesempatan lalu kami telah menampilkan kisah tentang Syekh Quro sebagai penyempurna kisah Dinasti Siliwangi sebagai penguasa Kerajaan Pajajaran, tulisan diatas diharapkan dapat menyempurnakan tulisan sebelumnya.

BERSAMBUNG
Syekh Datuk Kahfi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: