SEKITAR KITA (yang belum jujur terungkap) GURINDAM 12

Nizla Fatimah Mantiri 29 September jam 22:53 BalasLaporkan

GURINDAM 12

Gurindam 12 merupakan puisi, berisi nasehat agama baik itu untuk diri pribadi maupun untuk pemimpin yang baik. Buah hasil karya Raja Ali Haji seorang sastrawan dan Pahlawan Nasional dari Pulau Penyengat, Provinsi Riau. Sebelum kita membaca isi dari Gurindam 12 baiklah kita melihat terlebih dahulu sekilas tentang penulisnya;

Raja Ali Haji (Sufi, Pahlawan, Tokoh Sastra & Bapak Bahasa Indonesia)
Sahabat pernah mendengar Pulau Penyengat? Atau Sastra Melayu seperti Gurindam Dua Belas dan Pantun? Dan darimanakah asal mula akar dari Bahasa Indonesia yang mempersatukan kita semua dari Sabang hingga Merauke? Semua ini berkaitan erat dengan Pahlawan Nasional Indonesia yaitu Raja Ali Haji di Pulau Penyengat Kepulauan Riau. Beliau adalah seorang Sufi, Bapak Bahasa Indonesia, Tokoh Sastra Melayu dan Pahlawan Nasional. Beliau pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu lewat buku Pedoman Bahasa buku yang menjadi standar bahasa Melayu. Bahasa Melayu standar itulah yang dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia.
Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad lahir dan wafat di Pulau Penyengat Kepulauan Riau (1808 – 1873). Nama lengkap beliau adalah Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad bin Raja Haji Fisabilillah bin Opu Daeng Celak alias Engku Haji Ali Ibnu Engku Haji Ahmad Riau. Ia merupakan keturunan kedua (cucu) dari Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan IV dari Kesultanan Lingga-Riau dan juga merupakan bangsawan Bugis.
Karya monumentalnya, Gurindam Dua Belas (1847), menjadi pembaru arus sastra pada zamannya. Bukunya berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu Kamus Loghat Melayu-Johor-Pahang-Riau-Lingga penggal yang pertama merupakan kamus ekabahasa pertama di Nusantara. Ia juga menulis Syair Siti Shianah, Syair Suluh Pegawai, Syair Hukum Nikah, dan Syair Sultan Abdul Muluk. Raja Ali Haji juga patut diangkat jasanya dalam penulisan sejarah Melayu. Buku berjudul Tuhfat al-Nafis (“Bingkisan Berharga” tentang sejarah Melayu), walaupun dari segi penulisan sejarah sangat lemah karena tidak mencantumkan sumber dan tahunnya, dapat dibilang menggambarkan peristiwa-peristiwa secara lengkap. Meskipun sebagian pihak berpendapat Tuhfat dikarang terlebih dahulu oleh ayahnya yang juga sastrawan, Raja Ahmad. Raji Ali Haji hanya meneruskan apa yang telah dimulai ayahnya. Dalam bidang ketatanegaraan dan hukum, Raja Ali Haji pun menulis Mukaddimah fi Intizam (hukum dan politik). Ia juga aktif sebagai penasihat kerajaan.
Ia ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai pahlawan nasional pada 5 November tahun 2004.
Buku-buku karangan Raja Ali Haji

Senarai karangan Raja Ali Haji yang telah diketahui adalah seperti yang berikut
* Syair Sultan ‘Abdul Muluk, hari Rabu, 8 Rejab 1262H/1846M
* Gurindam Dua Belas, tahun 1846M
* (Bustanul Katibin lis Shibyanil Muta’allim), tahun 1267 H/1850M
* Kitab Pengetahuan Bahasa, tahun 1275 H/1858M
* (Tsamaratul Muhimmah), diselesaikan hari Selasa, pukul 2, pada 10 Syaaban 1275H/1858M
* Salasilah Melayu dan Bugis, 15 Rabiulakhir 1282H/1865M
* (Tuhfatun Nafis), 3 Syaaban 1282 H/1865M
* (Muqaddimah fi Intizham)
* Syair Hukum Nikah atau Syair Kitab an-Nikah atau Syair Suluh Pegawai
* Syair Sinar Gemala Mustika Alam
* (Jauharatul Maknunah), dinamakan juga Siti Shiyanah Shahibul Futuwah wal Amanah

Makam Raja Ali Haji (Kompleks makam keluarga Haji Ahmad) di Pulau Penyengat, Kota Tanjung Pinang

Makam Raja Ali Haji terletak di dalam areal pemakaman Engku Putri Raja Hamidah, namun di luar bangunan utama makam Engku Putri Raja Hamidah. Di dalam bangunan utama sendiri, Kita akan menemukan kutipan dari puisi terkenal Gurindam Dua Belas.
Makam sederhana ini terletak di kaki bukit kecil yang dikelilingi oleh pohon rindang. Ketika memasuki pemakaman ini, kita akan menemukan beberapa bangunan khas termasuk masjid kecil dengan kubahnya yang unik.
Berada di areal pemakaman, kita akan dengan mudah menemukan Makam Raja Ali dengan melihat atapnya yang berwarna hijau. Sementara itu, dua batu nisan di makam ini tertutup dengan kain kuning.

Gurindam I
Ini gurindam pasal yang pertama
Barang siapa tiada memegang agama, sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat, maka ia itulah orang ma’rifat
Barang siapa mengenal Allah, suruh dan teguhnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri, maka telah mengenal akan Tuhan yang bahari.
Barang siapa mengenal dunia, tahulah ia barang yang terpedaya.
Barang siapa mengenal akhirat, tahulah ia dunia melarat.

Gurindam II
Ini gurindam pasal yang kedua
Barang siapa mengenal yang tersebut, tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang, seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa, tidaklah mendapat dua temasya.
Barang siapa meninggalkan zakat, tiadalah hartanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji, tiadalah ia menyempurnakan janji.

Gurindam III
Ini gurindam pasal yang ketiga
Apabila terpelihara mata, sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping, khabar yang jahat tiadalah damping.
Apabila terpelihara lidah, nescaya dapat daripadanya faedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan, daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh, keluarlah fi’il yang tiada senonoh.
Anggota tengah hendaklah ingat, di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki, daripada berjalan yang membawa rugi.

Gurindam IV
Ini gurindam pasal yang keempat
Hati kerajaan di dalam tubuh, jikalau zalim segala anggota pun roboh.
Apabila dengki sudah bertanah, datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir, di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela, nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong, boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.
Tanda orang yang amat celaka, aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah, itupun perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar, janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor, mulutnya itu umpama ketur.
Di mana tahu salah diri, jika tidak orang lain yang berperi.

Gurindam V
Ini gurindam pasal yang kelima
Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa.
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia, sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia, lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu, bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal, di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai, lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

Gurindam VI
Ini gurindam pasal yang keenam
Cahari olehmu akan sahabat, yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru, yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri, yang boleh menyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan, pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan abdi, yang ada baik sedikit budi,

Gurindam VII
Ini Gurindam pasal yang ketujuh
Apabila banyak berkata-kata, di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka, itulah tanda hampir duka.
Apabila kita kurang siasat, itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih, jika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang, itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur, sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar, menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila menengar akan aduan, membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut, lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar, lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar, tidak boleh orang berbuat onar.

Gurindam VIII
Ini gurindam pasal yang kedelapan
Barang siapa khianat akan dirinya, apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya, orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya, daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar, biar pada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa, setengah daripada syirik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan, kebaikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka, keaiban diri hendaklah sangka.

Gurindam IX
Ini gurindam pasal yang kesembilan
Tahu pekerjaan tak baik, tetapi dikerjakan, bukannya manusia yaitu ialah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua, itulah iblis punya punggawa.
Kepada segala hamba-hamba raja, di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda, di situlah syaitan tempat berkuda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan, di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat, syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru, dengan syaitan jadi berseteru.

Gurindam X
Ini gurindam pasal yang kesepuluh
Dengan bapak jangan durhaka, supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat, supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganlah lalai, supaya boleh naik ke tengah balai.
Dengan isteri dan gundik janganlah alpa, supaya kemaluan jangan menerpa.
Dengan kawan hendaklah adil supaya tangannya jadi kafill.

Gurindam XI
Ini gurindam pasal yang kesebelas
Hendaklah berjasa, kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala, buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat, buanglah khianat.
Hendak marah, dahulukan hajat.
Hendak dimulai, jangan melalui.
Hendak ramai, murahkan perangai.

Gurindam XII
Ini gurindam pasal yang kedua belas
Raja mufakat dengan menteri, seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja, tanda jadi sebarang kerja.
Hukum adil atas rakyat, tanda raja beroleh inayat.
Kasihkan orang yang berilmu, tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai, tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati, itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata, kepada hati yang tidak buta.

SELESAI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: