NAPAKTILAS KEMASYURAN KESULTANAN BANTEN II

Nizla Fatimah Mantiri 19 September jam 23:01 BalasLaporkan

Kawasan Reruntuhan Keraton Kerajaan Islam Banten
Kota kerajaan yang semula di Banten Girang dipindahkan ke dekat muara Sungai Cibanten yang kemudian dikenal dengan nama Banten. Belanda pun memindahkan kota ke Kota Serang yang hingga saat ini masih berdiri.

Memasuki Kawasan Banten Lama kita akan menjumpai bekas reruntuhan Keraton Kaibon, selanjutnya sekitar 1 km dari situ terlihatlah kompleks bekas reruntuhan Keraton Surosowan. Lalu di sebelah selatan, terdapat sebuah kanal yang menghubungkan antara Tasik Ardi dengan keraton. Tasik Ardi merupakan tempat pengolahan air bersih yang dipasok ke kerajaan. Sedangkan di sebelah utara terdapat Masjid Agung dan Museum.

Keraton Kaibon
Keraton Kaibon dibangun setelah berdirinya Keraton Surosowan yang merupakan keraton utama, tempat raja menjalankan pemerintahannya. Sedangkan Keraton Kaibon dibangun untuk dipersembahkan kepada ibunda raja tercinta.
Ditinjau dari namanya (Kaibon = Keibuan), keraton ini dibangun untuk ibunda Sultan Muhammad Syafiuddin, Ratu Aisyah mengingat pada waktu itu, sebagai sultan ke 21 dari kerajaan Banten, Sultan Muhammad Syafiuddin masih sangat muda (masih berumur 5 tahun) untuk memegang tampuk pemerintahan.
Keraton Kaibon ini dihancurkan oleh pemerintah belanda pada tahun 1832, bersamaan dengan keraton Surosowan. Berbeda dengan kondisi keraton Surosowan yang boleh dibilang “rata” dengan tanah. Pada keraton Kaibon, masih tersisa gerbang dan pintu-pintu besar yang ada dalam kompleks istana, sebagian dari struktur bangunan yang masih tegak berdiri. Sebuah pintu berukuran besar yang dikenal dengan nama Pintu Paduraksa (khas bugis) dengan bagian atasnya yang tersambung, tampak masih bisa dilihat secara utuh. Deretan candi bentar khas Banten yang merupakan gerbang bersayap. Di bagian lain, sebuah ruangan persegi empat dengan bagian dasarnya yang lebih rendah atau menjorok ke dalam tanah, diduga merupakan kamar dari Ratu Aisyah. Ruang yang lebih rendah ini diduga digunakan sebagai pendingin ruangan dengan cara mengalirkan air di dalamnya dan pada bagian atas baru diberi balok kayu sebagai dasar dari lantai ruangan. Bekas penyangga papan masih terlihat jelas pada dinding ruangan ini. Arsitektur Keraton Kaibon ini memang sungguh unik karena sekeliling keraton sesungguhnya adalah saluran air. Artinya bahwa keraton ini benar-benar dibangun seolah-olah di atas air. Semua jalan masuk dari depan maupun belakang ternyata memang benar-benar harus melalui jalan air. Dan meskipun keraton ini memang didesain sebagai tempat tinggal Ibunda raja, tampak bahwa ciri-ciri bangunan keislamannya tetap ada, karena ternyata bangunan inti keraton ini adalah sebuah mesjid dengan pilar-pilar tinggi yang sangat megah dan anggun. Dan kalau mau ditarik dan ditelusuri jalur air ini memang menghubungkan laut, sehingga dapat dibayangkan betapa indahnya tata alur jalan menuju keraton ini pada waktu itu

Keraton Surosowan
Keraton ini dibangun sekitar tahun 1522-1526 pada masa pemerintahan Sultan Banten I, Sultan Maulana Hasanudin dan konon juga melibatkan arsitek asal Belanda, yaitu Hendrik Lucas Cardeel, yang memeluk Islam dan diberi gelar Pangeran Wiraguna . Dinding pembatas Keraton setinggi 2 meter mengitari area Keraton. Surosowan mirip sebuah benteng Belanda yang kokoh dengan bastion (sudut benteng yang berbentuk intan) di empat sudut bangunannya. Bangunan di dalam dinding keraton tak ada lagi yang utuh. Kawasan seluas empat hektar itu menyisakan runtuhan dinding dan pondasi kamar-kamar berdenah persegi empat yang jumlahnya puluhan, pintu gerbang keraton berbentuk bulat, kolam pemandian, hingga sistem saluran air dalam keraton.
Keraton Surosowan ini memiliki tiga gerbang masuk, masing-masing terletak di sisi utara, timur, dan selatan. Namun, pintu selatan telah ditutup dengan tembok, tidak diketahui apa penyebabnya. Pada bagian tengah keraton terdapat sebuah bangunan kolam berisi air berwarna hijau, yang dipenuhi oleh ganggang dan lumut. Di keraton ini juga banyak ruang di dalam keraton yang berhubungan dengan air atau pemandian (tirta).
Keindahan Keraton akan nampak terlihat jika mata kita alihkan ke objek 3 tangga istana yang berbentuk setengah lingkaran dari batu bata dan bekas kolam taman, bernama Bale Kambang Rara Denok. Ada pula pancuran untuk pemandian yang biasa disebut “pancuran mas”.
Kolam Bale Kambang Rara Denok berbentuk persegi empat dengan panjang 30 meter dan lebar 13 meter serta kedalaman kolam 4,5 meter.

Kemajuan peradaban juga bisa disaksikan dari sisa bangunan di sana. Pada tahun 1552, ketika keraton itu mulai dibangun, nenek moyang kita ternyata sudah mengembangkan teknologi penyaringan air bersih. Pada bagian belakang istana (jika bagian depan istana diasumsikan bangunan yang ada tangganya) terdapat saluran air. Di depannya ada enam keran (dulu terbuat dari besi berwarna kuning sehingga tempat itu disebut Pancuran Emas) untuk mengambil air bersih yang sudah disaring.

Air bersih bersumber dari mata air Tasik Ardi, berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Keraton Surosowan. Sebelum digunakan untuk minum, air itu harus melalui tiga penyaringan (peninggilan). Sumber air Tasik Ardi hingga kini masih tetap asri dan menjadi salah satu tempat wisata dalam kawasan Banten Lama, walau debit air yang dikeluarkan jauh lebih kecil. Sementara, pipa saluran air menuju keraton tetap terpelihara baik walau sebagian tertutup tanah dan jalan.

BERSAMBUNG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: