SEKITAR KITA (yang belum jujur terungkap)

Nizla Fatimah Mantiri 05 September jam 1:15 BalasLaporkan

Inggit Garnasih (si lembut yang perkasa)

Siang itu pada hari Minggu, 21 Juni 1970, seorang perempuan tua renta tergopoh-gopoh mendekati sebuah peti jenazah di tengah lautan massa yang berjubel, berbaris, antre hendak memberi penghormatan terakhir. Di dekat tubuh tak bernyawa di hadapannya, perempuan tua itu berucap, “Ngkus, geuning Ngkus tehmiheulan, ku Inggit di doakeun…” (Ngkus, kiranya Ngkus mendahului, Inggit doakan….). Sampai di situ, suaranya terputus, kerongkongan terasa tersumbat. Badannya yang sudah renta dan lemah, terhuyung diguncang perasaan sedih.

Siapakah perempuan tua tersebut?
Ia adalah Inggit Garnasih, istri kedua Sukarno yang dinikahi tahun 1923, adalah wanita yang dengan setia mengikuti dan mendukung perjuangan Sukarno sejak usia 21 tahun. Ia bahkan turut serta dalam setiap pengasingan Soekarno, mulai dari Ende sampai Bengkulu. Ia lahir tahun 1888, lebih tua 12 tahun dari Soekarno. Itu artinya, saat “Ngkus” panggilan kesayangan Inggit kepada Soekarno, wafat, usia Inggit 82 tahun.

Di usia yang sepuh, dan dalam kondisi yang juga sakit ia menerima berita duka tersebut. Ia tergopoh-gopoh berangkat dari Bandung menuju Jakarta, ditemani putri angkatnya, Ratna Juami. Dalam batinnya, ia harus memberi penghormatan terakhir kepada mantan suaminya yang telah ia antar ke pintu gerbang kemerdekaan.

Kesetiaan Hingga Akhir
Apabila Soekarno api maka Inggit kayu bakarnya. Inggit menghapus keringat ketika Soekarno kelelahan, Inggit menghibur ketika Soekarno kesepian. Inggit menjahitkan ketika kancing baju Soekarno lepas, Inggit hadir ketika Soekarno muda membutuhkan kehangatan perempuan baik sebagai Ibu maupun teman.
Inggit merupakan tiga bentuk dalam satu kepribadian, yakni ibu, kekasih, dan kawan yang selalu memberi tanpa pernah meminta. Kekurangannya, Inggit tidak melahirkan anak.
Inggit bagi Soekarno laksana Khadijah bagi Muhammad. Bedanya Muhammad setia hingga Khadijah meninggal sedangkan Soekarno kawin lagi, melangkah ke gerbang istana dan Inggit pulang ke Bandung, menenun sepi.

Dalam kamus hidupnya hanya ada kata memberi tak ada kata meminta. Inggit menjual bedak, meramu jamu dan menjahit kutang untuk nafkah keluarga, sementara Soekarno seperti singa yang mengaum dari satu podium ke podium berikutnya, pikirannya tercurah untuk pergerakan, Inggit yang setia mencari uang. Inggit mencinta karena cinta, tanpa pamrih tanpa motivasi.

Suatu malam di jalan Jaksa,
kedua pasang mata bertemu,
Soekarno berkata “Aku cinta padamu”.
Inggit tersipu menunduk dalam-dalam
sambil mempermainkan ujung kebaya.

Itulah cinta yang dibawakan Inggit dengan mesra, tanpa suara tanpa kata-kata, tanpa bahasa. Kejadian yang sangat lazim dan sederhana tetapi merupakan kejadian penting yang terlupakan oleh segenap bangsa.
Inggit menemani Soekarno yang terlunta-lunta di pembuangan. Jauh di Pulau Ende lalu di Bengkulu, Inggit tetap menemani, merupakan batere bagi kehidupan Soekarno yang menderita.

Selama 20 tahun hidup perkawinannya bersama Bung Karno, dengan setia Inggit menjenguk Soekarno ketika disekap di Penjara Sukamiskin. Dengan kesetiaan luar biasa Inggit mengikuti Soekarno menjalani pengasingan di Flores

Tetapi di ujung masa penjajahan Soekarno berkata pada Inggit, “Euis, aku akan menikah lagi supaya punya anak seperti orang-orang lain.”
“Kalau begitu antarkan saja aku ke Bandung!” jawab Inggit.
“Tidak begitu, maksudku engkau akan tetap jadi istri utama. Jadi first lady seandainya kita nanti merdeka.”
“Tidak, antarkan saja aku ke Bandung.” jawab Inggit lagi.

Dengan kebesaran jiwa yang sulit dicari bandingannya, Inggit akhirnya menyerahkan Soekarno kepada Fatmawati, bekas putri angkatnya dalam masa pembuangan di Bengkulu.

Soekarno lalu mengantar Inggit ke Bandung. Kembali tinggal di Jl. Tjiateul dan Soekarno balik ke Jakarta untuk kawin lagi.

Dalam kesepiannya Inggit selalu berdoa bagi kebaikan Soekarno. Inggit kembali menjual bedak, meramu jamu dan menjahit kutang sebagai nafkah.
Dagangannya dititipkan di toko Delima. Inggit tidak mengeluh. tidak menangis. Demikianlah cinta Inggit pada Soekarno. Cinta semata-mata karena cinta. Tidak luka ketika dilukai dan tidak sakit ketika disakiti, tanpa pamrih tanpa motivasi.

Siang itu di Jl. Ciateul kini Jl. Inggit Garnasih yang sibuk dan panas, tampak sebuah rumah lama dicat baru, katanya disitulah dulu Inggit tinggal dan kini dijadikan museum. Namun isinya … kini kenangan indah itu seperti terlelang satu demi satu.

Tetapi satu hal yang tidak mungkin bisa terlelang adalah hikmah dan pelajaran yang ditinggalkan oleh Inggit untuk kita yaitu pelajaran tentang ’mencintai tanpa pamrih’.SELESAI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: