NAPAKTILAS KEMASYURAN KESULTANAN BANTEN

Nizla Fatimah Mantiri 17 September jam 12:02 BalasLaporkan

Setelah sukses dengan tulisan Napak Tilas Kemasyuran Kerajaan Pajajaran, kini saya tuangkan tulisan tentang Napak Tilas Kemasyuran Kesultanan Banten.
Selamat membaca dan menambah ilmu, semoga tulisan ini bermanfaat.

Pelabuhan Banten
Jauh sebelum Kesultanan Banten berjaya, Pelabuhan Banten telah dikenal oleh para pelaut dan pedagang dari negeri seberang. Ada beberapa catatan akurat yang bisa kita telusuri tentang kepopuleran Pelabuhan Banten, dimulai dengan:
1. Tambo Tulangbawang, Primbon Bayah, dan berita Cina, orang menyebut daerah Banten dengan nama Medanggili. Sebutan ini setidak-tidaknya berlaku hingga abad ke-13.
2. Sementara itu, sumber Cina yang berjudul Shung Peng Hsiang Sung, yang diperkirakan ditulis tahun 1430, memberitakan bahwa Banten merupakan suatu tempat yang berada dalam beberapa rute pelayaran yang dibuat Mao’Kun pada sekitar tahun 1421.
3. Sementara dalam buku Ying-Yai-She-Lan (1433) Banten disebut Shut’a yang sangat dekat pelafalannya dengan Sunda. Buku ini merupakan laporan ekspedisi Laksamana Cheng Ho dan Ma Huan ke beberapa tempat di Pulau Jawa.
4. Dalam catatan orang Eropa yang berasal dari catatan laporan perjalanan Tom Pires (1513), Banten digambarkan sebagai sebuah kota pelabuhan yang ramai dan berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda. Catatan itu menjelaskan juga bahwa Banten merupakan sebuah kota niaga yang baik karena terletak di sebuah teluk dan muara sungai. Barang dagangan utama yang diekspor dari pelabuhan ini ialah lada, beras, dan berbagai jenis makanan lainnya.
5. Selain dari sumber asing, ada juga sumber lokal yang menyebut-nyebut Banten. Carita Parahiyangan yang ditulis pada tahun 1518 menyebutkan adanya sebuah tempat yang bernama Wahanten Girang yang terletak agak ke pedalaman. Wahanten Girang dapat dihubungkan dengan nama Banten, bahkan oleh sebagian orang nama kota ini dipandang sebagai kata asal bagi nama Banten. Kini dikenal dengan Banten Girang

Kesultanan Banten
Pangeran Sabakingking atas petunjuk ayahnya, Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), mendirikan Kota Surosowan sebagai ibukota kerajaan. Setelah kota itu selesai dibangun, Maulana Hasanuddin gelar yang diberikan oleh ayahnya kepada Pangeran Sabakingking ketika diangkat sebagai penguasa pertama Banten. Pengangkatan ini terjadi tahun 1552, tepat ketika usia Sultan menginjak 27 tahun.
Maulana Hasanuddin wafat pada tahun 1570 dan dimakamkan di samping Masjid Agung Banten. Sebagai tanda hormat dan cinta kepada beliau rakyatnya memberikan gelar anumerta Pangeran Surosowan Panembahan Sabakingkin. Julukan ini memiliki makna filosofis bahwa pendiri Keraton Surosowan adalah Maulana Hasanuddin yang sangat bijaksana.

Maulana Hasanuddin kemudian digantikan oleh Maulana Yusuf, putra pertamanya, sebagai penguasa Banten kedua yang memerintah tahun 1570-1580. Masa pemerintahannya lebih menitikberatkan pada pengembangan kota, keamanan wilayah, perdagangan, dan pertanian, di samping melanjutkan politik ekspansi ayahnya. Dalam upaya perluasan wilayah, daerah pedalaman Kerajaan Sunda Pajajaran, termasuk pusat pemerintahannya (Pakuan Pajajaran), berhasil diduduki oleh pasukan Banten yang dibantu oleh Cirebon pada tahun 1579 sehingga Kerajaan Sunda Pajajaran akhirnya runtuh.
Berakhirnya jaman Kerajaan Sunda Pajajaran (1482 – 1579), ditandai dengan diboyongnya PALANGKA SRIMAN SRIWACANA (Tempat duduk tempat penobatan tahta) dari Pakuan ke Surosowan di Banten. Batu berukuran 200 x 160 x 20 cm itu terpaksa di boyong ke Banten karena tradisi politik waktu itu “mengharuskan” demikian. Kata Palangka secara umum berarti tempat duduk (pangcalikan). Bagi raja berarti Tahta.

Sepeninggalnya Maulana Yusuf, Kesultanan Banten dilanda konflik perebutan tahta kesultanan. Dua orang yang memperebutkan tahta Kesultanan Banten adalah Maulana Muhammad Nasrudin dan Pangeran Jepara. Muhammad Nasrudin merupakan putera dari Maulana Yusuf dan baru berusia sembilan tahun ketika Maulana Yusuf meninggal dunia. Untuk menjamin kelangsungan kekuasaannya, segala urusan pemerintahan ditangani oleh Mangkubumi dan sebagai penguasa Banten, Maulana Muhammad Nasrudin berada di bawah bimbingan seorang kadi (hakim agung).

Maulana Muhammad Nasrudin akhirnya menduduki tahta Banten menggantikan Maulana Yusuf yang kemudian bergelar Kanjeng Ratu Banten Surosowan atau Pangeran Ratu ing Banten (1580-1596).
Maulana Muhammad Nasrudin tewas dalam ekspedisi memperluas kekuasaan Banten di Palembang dan sekitarnya. Setelah dikebumikan di serambi Masjid Agung Banten, Maulana Muhammad Nasrudin kemudian dikenal dengan sebutan Prabu Seda ing Palembang atau Pangeran Seda ing Rana.

Pada bulan Januari 1624, Sultan Abdul Mufakhir Mahmud Abdul Qodir (1596-1651) sepenuhnya memegang kekuasaan atas Kesultanan Banten. Penyerahan kekuasaan ini dilakukan oleh Pangeran Arya Ranamanggala sebagai mangkubumi terakhir Kesultanan Banten. Pada 1636, penguasa Arab di Mekkah memberikan gelar Sultan kepada dirinya sehingga dialah penguasa Banten pertama yang memakai gelar SULTAN.

Sepeninggal Sultan Abdul Mufakhir Mahmud Abdul Qodir pada 10 Maret 1651, dan kedudukannya sebagai Sultan Banten digantikan oleh Pangeran Adipati Anom Pangeran Surya, putra Abu al-Ma’ali Ahmad. Dengan gelar Sultan Abu Al Fath Abdul Fattah Muhammad Syifa Zaina Al Arifin atau lebih dikenal dengan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1684).
Pada masa beliaulah Kesultanan Banten mencapai puncak keemasannya.
Sultan Ageng Tirtayasa selain seorang ahli strategi perang, ia pun menaruh perhatian besar terhadap perkembangan pendidikan agama Islam di Banten. Untuk membina mental para prajurit Banten, didatangkan guru-guru agama dari Arab, Aceh, dan daerah lainnya. Salah seorang guru agama tersebut adalah seorang ulama besar dari Makassar yang bernama Syekh Yusuf gelar Tuanta Salamaka atau Syekh Yusuf Taju’l Khalwati, yang kemudian dijadikan mufti agung, sekaligus guru dan menantu Sultan Ageng Tirtayasa.

Bersamaan dengan itu, Banten mengalami perpecahan dari dalam, putra mahkota Sultan Abu Nasr Abdul Kahar yang dikenal dengan Sultan Haji diangkat jadi pembantu ayahnya mengurus urusan dalam negeri. Sedangkan urusan luar negeri dipegang oleh Sultan Ageng Tirtayasa dan dibantu oleh putera lainnya, Pangeran Arya Purbaya. Pemisahan urusan pemerintahan ini tercium oleh wakil Belanda di Banten, W. Caeff yang kemudian mendekati dan menghasut Sultan Haji. Karena termakan hasutan VOC, Sultan Haji kemudian bersekongkol dengan VOC untuk merebut tahta kekuasaan Banten. Dengan bantuan pasukan VOC, pada tahun 1681 Sultan Haji melakukan kudeta kepada ayahnya dan berhasil menguasai Keraton Surosowan. Keraton Surosowan tidak hanya berfungsi sebagai tempat kedudukan Sultan Haji, tetapi juga sebagai simbol telah tertanamnya kekuasaan VOC atas Banten.
Sultan Ageng Tirtayasa kemudian ditangkap dan dipenjarakan di Batavia sampai ia meninggal tahun 1692.

Tidak lama setelah itu, dengan restu VOC, Sultan Haji dinobatkan menjadi Sultan Banten (1682-1687). Penobatan ini disertai beberapa persyaratan sehingga Kesultanan Banten tidak lagi memiliki kedaulatan.
Sultan Haji pun menghadapi suatu kenyataan bahwa VOC merupakan tuan yang harus dituruti segala kehendaknya. Karena tekanan-tekanan itu, akhirnya Sultan Haji jatuh sakit hingga meninggal dunia pada tahun 1687.
Jenazahnya dimakamkan di sebelah utara mesjid agung Banten, sejajar dengan makam ayahnya.

Sepeninggal Sultan Haji terjadilah perebutan kekuasaan di antara anak-anaknya. Pertingkaian itu dapat diselesaikan setelah Gubernur Jenderal VOC van Imhoff turun tangan dengan mengangkat anak pertama, Pangeran Ratu menjadi Sultan Banten dengan gelar Sultan Abu’l Fadhl Muhammad Yahya (1687-1690).
Ternyata Sultan Abu’l Fadhl termasuk orang yang sangat membenci Belanda. Ditatanya kembali Banten yang sudah porak poranda itu. Akan tetapi baru berjalan tiga tahun, ia jatuh sakit yang mengakibatkan kematiannya. Jenazahnya dimakamkan di samping kanan makam Sultan Hasanuddin di Pasarean Sabakingkin.

Oleh karena Sultan Abu’l Fadhl Muhammad Yahya tidak mempunyai anak, tahta kesultanan diserahkan kepada adiknya Pangeran Adipati dengan gelar Sultan Abu’l Mahasin Muhammad Zainul Abidin juga biasa disebut Kang Sinuhun ing Nagari Banten yang menjadi gelar sultan-sultan Banten berikutnya. Ia memerintah dari tahun 1690 – 1733.

Pada tahun 1733 beliau digantikan oleh putra keduanya yang kemudian bergelar Sultan Abulfathi Muhammad Shifa Zainul Arifin (1733-1747).

Pada 1752, VOC mengangkat Pangeran Arya Adisantika, adik Sultan Zainul Arifin, menjadi Sultan Banten dengan gelar Sultan Abulma’ali Muhammad Wasi’ Zainal ‘Alimin. Perlawanan rakyat yang dipimpin oleh Ki Tapa dan Ratu Bagus Buang, mengakibatkan Sultan Abulma’ali Muhammad Wasi’ Zainal ‘Alamin menyerahkan kekuasaannya kepada Pangeran Gusti.

Pada tahun 1753 Pangeran Gusti dinobatkan menjadi sultan dengan gelar Abu’l Nasr Muhammad ‘Arif Zainul ‘Asiqin (1753-1773).

Sepeninggal Sultan Abu’l Nasr Muhammad ‘Arif Zainul ‘Asiqin, Kesultanan Banten semakin meredup dan melemah pengaruh dan kekuatannya, berikut dibawah ini nama-nama para Sultan yang terakhir berkuasa di Banten:
– Abu’l Mafakir Muhammad Aliyuddin (1773-1799)
– Muhyiddin Zainush Sholihin (1799-1801)
– Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802)
– Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803)
– Aliyuddin II (1803-1808)
– Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809)
– Muhammad Syafiuddin (1809-1813)
– Muhammad Rafiuddin (1813-1820)

Kawasan Reruntuhan Keraton Kerajaan Islam Banten
Kota kerajaan yang semula di Banten Girang dipindahkan ke dekat muara Sungai Cibanten yang kemudian dikenal dengan nama Banten. Belanda pun memindahkan kota ke Kota Serang yang hingga saat ini masih berdiri.

Memasuki Kawasan Banten Lama kita akan menjumpai bekas reruntuhan Keraton Kaibon, selanjutnya sekitar 1 km dari situ terlihatlah kompleks bekas reruntuhan Keraton Surosowan. Lalu di sebelah selatan, terdapat sebuah kanal yang menghubungkan antara Tasik Ardi dengan keraton. Tasik Ardi merupakan tempat pengolahan air bersih yang dipasok ke kerajaan. Sedangkan di sebelah utara terdapat Masjid Agung dan Museum.

Keraton Kaibon
Keraton Kaibon dibangun setelah berdirinya Keraton Surosowan yang merupakan keraton utama, tempat raja menjalankan pemerintahannya. Sedangkan Keraton Kaibon dibangun untuk dipersembahkan kepada ibunda raja tercinta.
Ditinjau dari namanya (Kaibon = Keibuan), keraton ini dibangun untuk ibunda Sultan Muhammad Syafiuddin, Ratu Aisyah mengingat pada waktu itu, sebagai sultan ke 21 dari kerajaan Banten, Sultan Muhammad Syafiuddin masih sangat muda (masih berumur 5 tahun) untuk memegang tampuk pemerintahan.
Keraton Kaibon ini dihancurkan oleh pemerintah belanda pada tahun 1832, bersamaan dengan keraton Surosowan. Berbeda dengan kondisi keraton Surosowan yang boleh dibilang “rata” dengan tanah. Pada keraton Kaibon, masih tersisa gerbang dan pintu-pintu besar yang ada dalam kompleks istana, sebagian dari struktur bangunan yang masih tegak berdiri. Sebuah pintu berukuran besar yang dikenal dengan nama Pintu Paduraksa (khas bugis) dengan bagian atasnya yang tersambung, tampak masih bisa dilihat secara utuh. Deretan candi bentar khas Banten yang merupakan gerbang bersayap. Di bagian lain, sebuah ruangan persegi empat dengan bagian dasarnya yang lebih rendah atau menjorok ke dalam tanah, diduga merupakan kamar dari Ratu Aisyah. Ruang yang lebih rendah ini diduga digunakan sebagai pendingin ruangan dengan cara mengalirkan air di dalamnya dan pada bagian atas baru diberi balok kayu sebagai dasar dari lantai ruangan. Bekas penyangga papan masih terlihat jelas pada dinding ruangan ini. Arsitektur Keraton Kaibon ini memang sungguh unik karena sekeliling keraton sesungguhnya adalah saluran air. Artinya bahwa keraton ini benar-benar dibangun seolah-olah di atas air. Semua jalan masuk dari depan maupun belakang ternyata memang benar-benar harus melalui jalan air. Dan meskipun keraton ini memang didesain sebagai tempat tinggal Ibunda raja, tampak bahwa ciri-ciri bangunan keislamannya tetap ada, karena ternyata bangunan inti keraton ini adalah sebuah mesjid dengan pilar-pilar tinggi yang sangat megah dan anggun. Dan kalau mau ditarik dan ditelusuri jalur air ini memang menghubungkan laut, sehingga dapat dibayangkan betapa indahnya tata alur jalan menuju keraton ini pada waktu itu

Keraton Surosowan
Keraton ini dibangun sekitar tahun 1522-1526 pada masa pemerintahan Sultan Banten I, Sultan Maulana Hasanudin dan konon juga melibatkan arsitek asal Belanda, yaitu Hendrik Lucas Cardeel, yang memeluk Islam dan diberi gelar Pangeran Wiraguna . Dinding pembatas Keraton setinggi 2 meter mengitari area Keraton. Surosowan mirip sebuah benteng Belanda yang kokoh dengan bastion (sudut benteng yang berbentuk intan) di empat sudut bangunannya. Bangunan di dalam dinding keraton tak ada lagi yang utuh. Kawasan seluas empat hektar itu menyisakan runtuhan dinding dan pondasi kamar-kamar berdenah persegi empat yang jumlahnya puluhan, pintu gerbang keraton berbentuk bulat, kolam pemandian, hingga sistem saluran air dalam keraton.
Keraton Surosowan ini memiliki tiga gerbang masuk, masing-masing terletak di sisi utara, timur, dan selatan. Namun, pintu selatan telah ditutup dengan tembok, tidak diketahui apa penyebabnya. Pada bagian tengah keraton terdapat sebuah bangunan kolam berisi air berwarna hijau, yang dipenuhi oleh ganggang dan lumut. Di keraton ini juga banyak ruang di dalam keraton yang berhubungan dengan air atau pemandian (tirta).
Keindahan Keraton akan nampak terlihat jika mata kita alihkan ke objek 3 tangga istana yang berbentuk setengah lingkaran dari batu bata dan bekas kolam taman, bernama Bale Kambang Rara Denok. Ada pula pancuran untuk pemandian yang biasa disebut “pancuran mas”.
Kolam Bale Kambang Rara Denok berbentuk persegi empat dengan panjang 30 meter dan lebar 13 meter serta kedalaman kolam 4,5 meter.

Kemajuan peradaban juga bisa disaksikan dari sisa bangunan di sana. Pada tahun 1552, ketika keraton itu mulai dibangun, nenek moyang kita ternyata sudah mengembangkan teknologi penyaringan air bersih. Pada bagian belakang istana (jika bagian depan istana diasumsikan bangunan yang ada tangganya) terdapat saluran air. Di depannya ada enam keran (dulu terbuat dari besi berwarna kuning sehingga tempat itu disebut Pancuran Emas) untuk mengambil air bersih yang sudah disaring.

Air bersih bersumber dari mata air Tasik Ardi, berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Keraton Surosowan. Sebelum digunakan untuk minum, air itu harus melalui tiga penyaringan (peninggilan). Sumber air Tasik Ardi hingga kini masih tetap asri dan menjadi salah satu tempat wisata dalam kawasan Banten Lama, walau debit air yang dikeluarkan jauh lebih kecil. Sementara, pipa saluran air menuju keraton tetap terpelihara baik walau sebagian tertutup tanah dan jalan.

Masjid Agung Banten
Pembangunan yang dimulai pada tanggal 5 Djulhijjah tahun 966 Hijriyah atau tahun 1569 M, yang kemudian di rampungkan oleh Sultan Maulana Yusuf. Masjid ini terletak di bekas ibukota Kerajaan Banten lama, 10 Km jaraknya dari sebelah utara kota Serang, Propinsi Banten. Masjid yang menempati tanah seluas 13 Ha, yang terdiri dari bangunan utama dan beberapa bangunan penunjang, seperti menara dan tiyamah, masjid ini juga memiliki atap berbentuk bujur sangkar yang di namakan kubah, yang tersusun makin keatas semakin mengecil. Atap yang berbentuk limas tersebut keseluruhannya berbentuk lima tingkat.
Pada sebelah selatan Masjid terdapat bangunan penunjang yang disebut Tiyamah, bangunan yang bergaya arsitektur Eropa dengan gaya arsitektur klasik Italia, denah berbentuk persegi panjang bertingkat dua, dimana merupakan hasil rancangan Hendrick Lucas Cardeel, arsitek Belanda yang masuk Islam. Karena jasanya, Sultan memberi gelar Pangeran Wiraguna kepada arsitek Belanda tersebut. Pada masa bangunan ini digunakaan sebagai Majelis Pertemuan para Ulama dan Penguasa untuk melakukan pembahasan masalah-masalah agama.
Menara merupakan penunjang Mesjid Agung Banten yang terletak dihalaman depan Masjid. Menara ini mempunyai ketinggian 23 meter. Pada zaman dahulu digunakan sebagai menara pandang ke lepas pantai. Menara Masjid Banten kini menjadi lambang bagi Pemerintah Propinsi Banten.
Disekitar lingkungan masjid terdapat juga makam para Sultan Banten dan Keluarga.

Museum Kepurbakalaan Banten
Terletak didepan bekas Keraton Surasowan yang dikelola oleh Kantor Peninggalan Sejarah dan Purbakala Banten. Di sana terdapat lukisan dua duta besar Keraton Banten yang dikirim ke Inggris pada tahun 1682. Dua utusan diplomatik itu adalah Kyai Ngabehi Wira Pradja dan Kyai Abi Yahya Sendana. Di depan halaman Museum nampak meriam Si Jagur yang unik karena di bagian penyulut sumbunya berhiaskan kepalan tangan yang jari jempolnya diselipkan di antara jari telunjuk dan jari tengah. Masih di depan halaman museum kita juga menjumpai Palangka Sriman Sriwacana (tahta Kerajaan Pajajaran). Karena mengkilap, orang Banten menyebutnya WATU GIGILANG. Kata Gigilang berarti mengkilap atau berseri.

Ziarah Makam
Komplek Makam Masjid Agung Banten (sebelah barat alun-alun Banten)
Disekeliling Masjid Agung terdapat makam para Sultan dan keluarganya serta pejuang Kesultanan Banten yang berjasa menyebarkan agama Islam. Disebelah kiri masjid Agung terdapat “Pasarean Panembahan Sabakingkin”. Berbaris dari ujung barat sampai ke timur, makam Sultan Abdul Fatah, Maulana Muhammad Nasruddin, Permaisuri Maulana Hasanuddin, Panembahan Surosowan, Sultan Abdul Fadal, Sultan An Nash Abdulkahar. Sisi utara serambi selatan terdapat makam Sultan Maulana Muhammad dan Sultan Zainul Abidin.

Makam Keramat Bela/ Ki Buyut/ Shekh Tubagus Achmad
Merupakan makam salah seorang ulama besar yang juga sufi pada masa kesultanan Abu’l Mahasin Muhammad Zainul Abidin. Semasa hidupnya beliau selalu membela kaum yang lemah dan sekaligus penyebar agama islam.

Makam Sultan Pangeran Astapati/ Mulyasmara, Desa Kasunyatan, Kecamatan Kasemen
Seorang tokoh agama islam di Banten yang diperkirakan berasal dari masyarakat Baduy yang masuk islam dan mengabadikan dirinya kepada Kesultanan Banten.

Makam Sultan Abdul Mufakhir Mahmud Abdul Qadir, Masjid Kenari, Desa Kenari, Kecamatan Kasemen
Terdapat juga makam ibundanya Sultan. Masjid Kenari merupakan bangunan kepurbakalaan islam dari masa Sultan Abdul Mufakhir Mahmud Abdul Qadir, Sultan Banten ke-4 yang didalamnya terdapat taman yang dulunya tempat beristirahat para keluarga Sultan. Lokasi masjid kurang lebih 7 km dari Kota Serang.

Makam Ratu Aisyah, Masjid Kasunyatan, Desa Kasunyatan Kecamatan Kasemen
Lokasi makam terdapat di samping bangunan masjid juga makam keluarga Kesultanan lainnya. Masjid Kasunyatan terletak kira-kira 2 km ke sebelah selatan Masjid Agung Banten. Masjid ini dahulu digunakan sebagai tempat berkumpulnya para Ulama dari berbagai daerah Nusantara untuk mempelajari dan memperdalam mengenai agama islam. Lokasi makam terdapat di samping bangunan masjid juga makam keluarga Kesultanan lainnya.

Makam Pangeran Arya Mandalika, Kampung Kroya Kecamatan Kasemen Pangeran Arya Mandalika adalah putra Sultan maulana Yusuf dari istri yang lain (bukan Permaisuri Ratu Khodijah). Pangeran Arya mandalika menjabat sebagai Panglima Perang merangkap Menteri Perlengkapan. Lokasi makam terletak di pingir jalan raya Banten, sebelum Keraton Kaibon.

Makam Sultan Maulana Yusuf, desa Pekalangan Gede, Kecamatan Kasemen
Beliau merupakan Sultan Banten ke-2 yang memimpin kerajaan Banten dari tahun 1570 – 1580. Beliau adalah putera dari Sultan Maulana Hasanuddin. Beliau banyak berjasa di bidang pertanian.
Lokasi makam terletak di tengah areal persawahan, tak jauh dari jalan raya menuju ke Banten Lama. Jarak yang ditempuh dari pusat kota Serang menuju lokasi kompleks makam adalah sekitar 6 km.

SELESAI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: