Catatan Kecil Ziarah Bali

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengadakan ziarah ke beberapa makam islam penuh karomah di pulau Bali. Diantara makam-makam keramat ini ada yang termasuk dalam Wali Pitu (7 Wali) yang ditemukan oleh Almarhum Habib Thoyyib Zein Ariffin Assegaf dari Sidoarjo, Jawa Timur.

Kusamba
Makam Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar bin Abu Bakar Al Hamid
Turunan ke 36 dari Rosululloh saw.
Terletak di pemakaman tua Kampung Islam Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung
Di depan makam dibangun patung seorang tokoh bersorban dan berjubah menunggang kuda, tugu ini berwarna putih.
Juru Kunci; Ibu Hj. Badar (kira2 500 m setelah makam, depan KUA Kusamba)

Keajaibannya;
Semasa hidupnya beliau bekerja sebagai guru besar Raja Kelungkung pada masa Pemerintahan Dhalem I Dewa Agung Jambe. Waktu itu beliau diberi seekor kuda sebagai alat transportasi pulang pergi antara Kusamba dan Kelungkung.
Pada suatu hari sewaktu Habib Ali pulang dari Kelungkung sesampainya di Desa Kusamba, ketika beliau melalui sebuah Pura, beliau diminta turun dari kudanya oleh penjaga pura dengan kurang sopan, terjadilah ketegangan yang berakhir dengan penusukan bertubi-tubi ke tubuh sang Habib, yang berakhir dengan wafatnya sang Habib ditempat kejadian. Keajaibanpun terjadi dari jenazah Habib Ali keluar cahaya putih kuning kebiru-biruan, cahaya itu sangat terang hingga menerangi hampir seluruh Kampung Kusamba

Karangasem
1. Makam Syaikh Maulana Yusuf Al Bagdadi Al Maghribi
Keturunan ke 43 dari Rosululloh saw
Terletak di pemakaman umum islam Kampung Karang Sokong, Desa Bungaya Kangin (Timur), Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem
Juru Kunci; Mbah Panud (rumahnya tepat pintu masuk makam)

Keajaibannya;
Pada tahun 1963 M, sewaktu Gunung Agung meletus yang gelegarnya terasa sampai Jawa timur, padahal Gunung Agung letaknya di daerah Karangasem timur Pulau Bali. Ini menunjukkan betapa hebat dan dahsyatnya letusan dan semburan yang dimuntahkan oleh Gunung Agung. Sebagian desa porak poranda, banyak rumah roboh, pohon-pohon besar banyak yang tumbang, hujan pasir dan batu kerikil telah menggenangi pulau Bali.
Namun, yang unik, Makam Syeh Maulana Yusuf Al Baghdi yang di atasnya tertumpuk susunan batu merah yang ditata begitu saja tidak diperkuat dengan semen pasir dan kapur tidak berubah sedikitpun, bahkan tidak sebutir pasirpun yang mampu menyentuhnya.

2. Makam Habib Ali bin Zainal Abidin Al Idrus
Wafat pada hari Selasa, 9 Ramadhan 1403 H (21 Juni 1983)
Terletak di pemakaman keluarga Kampung Telaga Mas, Desa Bungaya Kangin (Timur), Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem
Juru Kunci; Habib Muhdhor (anak ke 5 dari almarhum)
Semasa hidupnya beliau dikenal sebagai seorang guru agama dan guru bela diri

3. Makam Syaikh Tengku Abdurrahman. Berasal dari Aceh
Terletak di pemakaman umum Kampung Islam Kecicang, Desa Bungaya Kangin (Timur), Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem
Kondisi makam ini tidak terawat.

Karang Rupit
Makam The Kwan Lie atau lengkapnya The Kwan Pao Lie
Seorang perempuan dari Tiongkok yang menyamar menjadi laki-laki.
Bergelar Syaikh Abdul Qodir Muhammad
Beliau adalah murid Sunan Kalijogo
Terletak di Pantai Karang Rupit, Kampung Labuan Aji, Desa Temukus, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng
Juru Kunci; Bapak Abdul Latif

Loloan
Makam Habib Ali bin Umar Al Bafaqih
Makam terletak di dalam lingkungan Pondok Pesantren
Terletak di Desa Loloan Barat, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana

Pantai Seseh
Makam Pangeran Mas Sepuh
Bergelar Syaikh Ahmad Hamdun bin Khoirussoleh
Terletak di Pantai Seseh, Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Berdampingan dengan Candi Pura Agung
Juru Kunci; Seorang Pemangku Hindu

Keajaibannya;
Pangeran Mas Sepuh alias Raden Amangkurat, yang punya nama Bali, Ida Cokordo. Ia putra Raja Mengwi I yang menikah dengan seorang putri muslimah dari Kerajaan Blambangan, Banyuwangi, Jawa Timur. Sejak kecil beliau sudah berpisah dengan ayahandanya, beliau diasuh dan dibesarkan oleh ibundanya di Blambangan.
Setelah Pangeran Mas Sepuh mengetahui jati dirinya, maka ia memohon izin pada ibunya untuk mencari ayah kandungnya, Raja Mengwi ke-I, dengan dibekali sebilah keris pusaka yang berasal dari Kerajaan Mengwi dan niat akan mengabdikan diri.
Namun, setelah bertemu dengan ayahnya, terjadilah kesalahpahaman. Akhirnya Pangeran Mas Sepuh beranjak pulang ke Blambangan untuk memberitahu ibunya tentang peristiwa yang telah terjadi. Namun dalam perjalanan pulang, sesampainya di Pantai Seseh, Pangeran Mas Sepuh diserang sekelompok orang bersenjata yang tak dikenal, sehingga pertempuran tak dapat dihindari lagi. Melihat korban berjatuhan yang tidak sedikit dari kedua belah pihak, keris pusaka milik Pangeran Mas Sepuh dicabut dan diacungkan ke atas, seketika itu ujung keris mengeluarkan sinar dan terjadilah keajaiban, kelompok bersenjata yang menyerang tersebut mendadak lumpuh, bersimpuh diam seribu bahasa. Akhirnya diketahui kalau penyerang itu masih ada hubungan kekeluargaan, hal ini dilihat dari pakaian dan juga dari pandangan bathiniyah Pangeran Mas Sepuh. Akhirnya keris pusaka dimasukkan kembali dalam karangkanya, dan kelompok penyerang tersebut dapat bergerak dan kemudian memberi hormat kepada Pangeran Mas Sepuh.

Bedugul
Makam Habib Umar bin Maulana Yusuf Al Magribi
Untuk sementara dipercaya bahwa beliau masih sanak keluarga dari Syaikh Maulana Yusuf Al Bagdadi Al Magribi yang makamnya terletak di Kampung Karang Sokong, Desa Bungaya Kangin (Timur), Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem
Terletak di Bukit Bedugul, Kecamatan Bedugul, Kabupaten Tabanan

Keajaibannya;
Jauh sebelum lengsernya Orde Baru, para penduduk lereng Bukit Bedugul sering melihat cahaya seperti lampu yang sinarnya sangat terang yang berasal dari makam Habib Umar, namun memasuki jaman Reformasi cahaya itu jarang terlihat lagi, malah hampir tidak sama sekali.
Selain itu daerah Bukit Bedugul terkenal dengan sumber energi panas bumi yang memiliki kekuatan panas yang 2 kali lipat melebihi Gunung Agung, gunung berapi yang terkenal di Bali. Namun dengan karomah Habib Umar hingga kini daerah Bukit Bedugul masih terlihat aman-aman saja.

Pamecutan
Makam Siti Khotijah (Ratu Ayu Anak Agung Rai)
Terletak di Kampung Batu Karu, Desa Pamecutan, Kecamatan Monang Maning, Denpasar

Keajaiabannya;
Beliau adalah anak perempuan Raja Cokorda III dari Kerajaan Pamecutan yang bergelar Batara Sakti yang memerintah sekitar tahun 1653 Masehi atau abad ke-17 Masehi. Ia adalah isteri Pangeran Sosrodiningrat, seorang senopati Kerajaan Mataram.
Siti Khotijah setelah dipersunting oleh Pangeran Sosrodiningrat kemudian memeluk Islam dan bersungguh-sungguh menekuni dan melaksanakan ajaran agama Islam. Seluruh sanak keluarga termasuk Raja sangat menentang sikap Siti Khotijah yang sangat taat menekuni keyakinan barunya tersebut. Berbagai cara ditempuh oleh Raja dan sanak keluarganya untuk merubah kekuatan hati Siti Khotijah, namun tidak pernah berhasil. Sampai suatu waktu kemudian, Siti Khotijah berkata, “apabila ajaran agama Islam yang kini saya anut ini tidak benar maka kelak bila saya wafat seluruh tubuh saya akan mengeluarkan bau yang amat busuk, namun sebaliknya apabila ajaran agama Islam ini benar maka kelak bila saya wafat seluruh tubuh saya akan mengeluarkan bau yang sangat harum dan wangi”.
Hingga pada suatu malam, sewaktu Siti Khotijah mengerjakan Sholat Malam dikamarnya dalam keadaan pintu kamarnya terbuka, secara tidak sengaja terlihat oleh seorang punggawa kerajaan yang sedang berjaga. Ketika Siti Khotijah mengucapkan Allahu Akbar, terdengarlah oleh sang punggawa, kemudian sang punggawa mendekati kamar Keputren untuk memastikan pendengarannya, terdengarlah lagi suara Allahu Akbar hingga tiga kali, namun yang hinggap dikuping sang punggawa adalah makebar, makebar, makebar, yang dalam bahasa Bali berarti terbang.
Sang punggawa semakin penasaran lalu mencoba mendekati kamar Keputren dan mengintip melalui pintu yang terbuka tadi. Ia sangat terkejut ketika melihat Siti Khotijah yang tampak dari belakang diselubungi kain putih (mukenah), pikirannya langsung mengatakan bahwa yang dilihatnya adalah Leak (siluman jahat), maka dia langsung menghadap Raja untuk melaporkan apa yang dilihatnya di kamar Keputren. Raja kemudian mendatanginya. Saat melihat Siti Khotijah sedang sujud, tanpa berpikir panjang Raja memerintahkan sang punggawa untuk menikam punggung Siti Khotijah dengan keris. Seketika itu juga darah segar menyembur dari punggung Siti Khotijah. Betapa kaget sang raja ketika melihat tubuh yang bermandikan darah itu adalah puteri kandungnya sendiri.
Bersamaan dengan itu, terjadi keanehan yang luar biasa, darah segar tersebut mengeluarkan bau harum yang sangat wangi, bau wangi ini tercium hingga keluar kamar Keputren lalu kemudian memenuhi seluruh udara Istana Pamecutan. Bahkan seluruh kota Denpasar dapat mencium bau harum mewangi yang luarbiasa tersebut, semua penduduk terutama keluarga istana, sangat terkejut, termasuk Raja Pamecutan. Terbuktilah kini ucapan Siti Khotijah.
Jenazah Siti Khotijah yang tertelungkup dengan keris terhujam dipunggungnya sulit diangkat dan dibujurkan, tubuhnya yang bermandikan darah mulai membeku. Keluarga Kerajaan berusaha untuk menolong dan mengangkatnya tidak dapat berbuat apa-apa, jenazahnya tetap sujud tidak berubah, Raja akhirnya mencari bantuan kepada umat Islam yang ada disana agar mau merawat jenazah putrinya menurut cara Islam. Kemudian umat Islam tersebut segera membantu merawat jenazah, mulai dari memandikan, mengkafani, mensholati sampai memakamkannya dan semuanya berjalan lancar. Namun satu hal yang tak dapat diatasi yaitu keris yang menghujam dipunggungnya tidak dapat dicabut, akhirnya atas keputusan semua pihak jenazah dimakamkan bersama keris yang masih berada dipunggungnya. Dan anehnya batang keris yang terbuat dari kayu itu tumbuh dan hidup sampai sekarang. Batang keris yang tumbuh menjadi pohon, dipercaya bisa mengobati segala macam penyakit
Hal tersebut dapat dibuktikan apabila berkunjung dimakam Siti Khotijah.

Ada juga beberapa makam yang juga memilki karomah seperti;
1. Keramat Sunan Mumbul
Petilasan Pangeran Raden Datu Mas Pakel alias Kyai Mumbul
Terletak di Taman Ujung, Pantai Ujung, Kabupaten Karangasem

Keajaibannya;
Dikisahkan bahwa Pangeran Datu Mas Pakel adalah putera mahkota Kerajaan Pejanggik dari pulau Lombok yang membelot ke Kerajaan Puri Karangasem karena sakit hati. Calon isterinya di rebut secara paksa oleh saudaranya sendiri.
Pangeranpun membela Kerajaan Puri Karangasem dalam peperangan melawan Kerajaan Pejanggik dan menang. Sejak saat itu Raja Kerajaan Puri Karangasem mulai menyayanginya, walau sang Pangeran Islam dan senatiasa mengenakan jubah putih dan sorban putih yang selalu menghiasi kepalanya. Hal ini membuat iri keluarga kerajaan lainnya. Dibuatlah konspirasi untuk melenyapkan nyawa sang Pangeran.
Dengan isu bahwa akan ada penyerangan musuh ke Kerajaan Karangasem yang mendarat di Pantai Ujung, maka sebagai seorang yang memegang teguh amanah sang raja, sang Pangeranpun berangkat menuju Pantai Ujung. Sesampainya disana ternyata telah menunggu para punggawa istana yang kemudian menangkapnya atas perintah keluarga kerajaan yang iri pada sang Pangeran.
Kemudian sang Pangeran dipaksa untuk menggali lubang yang kelak menjadi makam dirinya. Belum selesai lubang digali tiba-tiba seorang punggawa dengan sigap mengayunkan pedang menebas leher sang Pangeran. Ajaib tiba-tiba tubuh sang Pangeran melesat terbang bagaikan cahaya putih dan sekejap mata menghilang, hanya sorbannya saja yang terbang ke atas dan jatuh tepat ditengah-tengah lubang yang belum selesai digali tersebut.
Sebagai penghormatan atas jasa sang Pangeran, Raja kemudian menguburkan sorban putih sang Pangeran sebagai tanda berdukacita Kerajaan Puri Karangasem atas peristiwa tersebut.
Pangeran Datu Mas Pakel ternyata kembali ke pulau Lombok dan wafat disana. Oleh masyarakat muslim disekitar makam memberi julukan Makam Keramat Sunan Mumbul. Mumbul yang dalam bahasa Bali artinya terbang.

2. Keramat Saren Jawa
Makam Syaikh Tuanku Jalil
Terletak di Kampung Islam Saren Jawa, Kabupaten Karangasem

Perlu diketahui bagi mereka yang berminat mengadakan ziarah Wali Pitu, bahwa ke-absahan mengenai 7 makam yang termasuk dalam Wali Pitu belumlah paten atau pasti benar, karena masih ada kesimpang siuran didalamnya, maksudnya masih belum pasti benar makam-makam mana sajakah di Bali yang benar-benar termasuk Wali Pitu. Sampai saat ini masih terus diadakan penelitian untuk keabsahan Wali Pitu di Bali.

Wallahualam bi sowaab

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: