Rasulullah SAW

MUHAMMAD SAW

MUHAMMAD SAW

Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang menyampaikan lebih sering memelihara daripada yang hanya mendengarkan.“Nabi mulia Muhammad SAW telah memberi teladan indah. Setiap persoalan yang ia hadapi selalu diadukan kepada Allah. Antara lain beliau saw mengingatkan,  “Seseorang yang harinya tidak dimulai dengan membaca Al Quran, maka sepanjang harinya dia akan merasa murung.“ Allah swt berfirman, “Dan Kami turunkan dari Al Quran yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman“ (Al Isra’ : 82). “Dan Al Quran penyembuh bagi penyakit-penyakit yang berada dalam  dada.“

KRAMAT LUAR BATANG (Al Habib Husein bin Abu Bakar Al Aydrus)

Makam Luar BatangAl Habib Husein bin Abu Bakar Al Aydrus dilahirkan di Yaman Selatan, tepatnya di daerah Hadhramaut, tiga abad yang silam. Beliau dilahirkan sebagai anak yatim, yang dibesarkan oleh seorang ibu dimana sehari-harinya hidup dari hasil memintal benang pada perusahaan tenun tradisional. Husein kecil sungguh hidup dalam kesederhanaan. 

Setelah memasuki usia belia, sang ibu menitipkan Habib Husein pada seorang “Alim Shufi”. Disanalah ia menerima tempaan pembelajaran thariqah. Di tengah-tengah kehidupan diantara murid-murid yang lain, tampak Habib Husein memiliki perilaku dan sifat-sifat yang lebih dari teman-temannya.

Kini, Al Habib Husein telah menginjak usia dewasa. Setiap ahli thariqah senantiasa memiliki panggilan untuk melakukan hijrah, dalam rangka mensiarkan Islam ke belahan bumi Allah. Untuk melaksanakan keinginan tersebut Habib Husein tidak kekurangan akal, ia bergegas menghampiri para kafilah dan musafir yang sedang melakukan jual-beli di pasar pada setiap hari Jumat.

Setelah dipastikan mendapatkan tumpangan dari salah seorang kafilah yang hendak bertolak ke India, maka Habib Husein segera menghampiri ibunya untuk meminta ijin.

Walau dengan berat hati, ibunya harus melepaskan dan merelakan kepergian puteranya. Habib Husein mencoba membesarkan hati ibunya sambil berkata,  “Janganlah takut dan berkecil hati, apapun akan ku hadapi, senantiasa bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya ia bersama kita.” Akhirnya berangkatlah Al Habib Husein menuju daratan India.

Sampailah Al Habib Husein disebuah kota bernama “Surati” atau lebih dikenal kota Gujarat, sedangkan penduduknya beragama Budha. Mulailah Habib Husein mensiarkan Islam dikota tersebut dan kota-kota sekitarnya.

Kedatangan Habib Husein di kota tersebut membawa Rahmatan Lil-Alamin. Karena daerah yang asalnya kering dan tandus, kemudian dengan kebesaran Allah maka berubah menjadi daerah yang subur. Agama Islam pun tumbuh berkembang.

Hingga kini belum ditemukan sumber yang pasti berapa lama Habib Husein bermukim di India. Tidak lama kemudian ia melanjutkan misi hijrahnya menuju wilayah Asia Tenggara, hingga sampai di pulau Jawa, dan menetap di kota Batavia, sebutan kota Jakarta tempo dulu.

Batavia adalah pusat pemerintahan Belanda, dan pelabuhannya adalah Sunda Kelapa. Maka tidak heran kalau pelabuhan itu dikenal sebagai pelabuhan yang teramai dan terbesar di jamannya. Pada tahun 1736 M datanglah Al-Habib Husein bersama para pedagang dari Gujarat di pelabuhan Sunda Kelapa.

Disinilah tempat persinggahan terakhir dalam mensyiarkan Islam. Beliau mendirikan Surau sebagai pusat pengembangan ajaran Islam. Ia banyak dikunjungi bukan saja dari daerah sekitarnya, melainkan juga datang dari berbagai daerah untuk belajar Islam atau banyak juga yang datang untuk didoakan.

Pesatnya pertumbuhan dan minat orang yang datang untuk belajar agama Islam ke Habib Husein mengundang kesinisan dari pemerintah VOC, yang di pandang akan menggangu ketertiban dan keamanan. Akhirnya Habib Husein beserta beberapa pengikut utamanya dijatuhi hukuman, dan ditahan di penjara Glodok.

Istilah karomah secara estimologi dalam bahasa arab berarti mulia, sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia (terbitan balai pustaka, Jakarta 1995, hal 483) menyebutkan karomah dengan keramat, diartikan suci dan dapat mengadakan sesuatu diluar kemampuan manusia biasa karena ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam ajaran Islam karomah dimaksudkan sebagai khariqun lil adat yang berarti kejadian luar biasa pada seseorang wali Allah. Karomah merupakan tanda-tanda kebenaran sikap dan tingkah laku seseorang, yang merupakan anugrah Allah karena ketakwaannya, berikut ini terdapat beberapa karomah yang dimiliki oleh Al Habib Husein bin Abu Bakar Al Aydrus atau yang kita kenal Habib Luar Batang, seorang wali Allah yang lahir di Jazirah Arab dan telah ditakdirkan wafat di Pulau Jawa, tepatnya di Jakarta Utara.

1. Menjadi mesin pemintal

Di masa belia, ditanah kelahirannya yaitu di daerah Hadhramaut – Yaman Selatan, Habib Husein berguru pada seorang Alim Shufi. Di hari-hari libur ia pulang untuk menyambangi ibunya.

Pada suatu malam ketika ia berada di rumahnya, ibu Habib Husein meminta tolong agar ia bersedia membantu mengerjakan pintalan benang yang ada di gudang. Habib Husein segera menyanggupi, dan ia segera ke gudang untuk mengerjakan apa yang diperintahkan oleh ibunya. Makan malam juga telah disediakan. Menjelang pagi hari, ibu Husein membuka pintu gudang. Ia sangat heran karena makanan yang disediakan masih utuh belum dimakan husein. Selanjutnya ia sangat kaget melihat hasil pintalan benang begitu banyaknya. Si ibu tercengang melihat kejadian ini. Dalam benaknya terpikir bagaimana mungkin hasil pemintalan benang yang seharusnya dikerjakan dalam beberapa hari, malah hanya dikerjakan kurang dari semalam, padahal Habib Husein dijumpai dalam keadaan tidur pulas disudut gudang.

Kejadian ini oleh ibunya diceritakan kepada guru thariqah yang membimbing Habib Husein. Mendengar cerita itu maka ia bertakbir sambil berucap,  “Sungguh Allah berkehendak pada anakmu, untuk diperolehnya derajat yang besar disisi-Nya, hendaklah ibu berbesar hati dan jangan bertindak keras kepadanya, rahasiakanlah segala sesuatu yang terjadi pada anakmu.”

2. Menyuburkan Kota Gujarat

Hijrah pertama yang di singgahi oleh Habib Husein adalah di daratan India, tepatnya di kota Surati atau lebih dikenal Gujarat. Kehidupan kota tersebut bagaikan kota mati karena dilanda kekeringan dan wabah kolera.

Kedatangan Habib Husein di kota tersebut disambut oleh ketua adat setempat, kemudian ia dibawa kepada kepala wilayah serta beberapa penasehat paranormal, dan Habib Husein diperkenalkan sebagai titisan Dewa yang dapat menyelamatkan negeri itu dari bencana.

Habib Husein menyangupi bahwa dengan pertolongan Allah, ia akan merubah negeri ini menjadi sebuah negeri yang subur, asal dengan syarat mereka mengucapkan dua kalimat syahadat dan menerima Islam sebagai agamanya. Syarat tersebut juga mereka sanggupi dan berbondong-bondong warga di kota itu belajar agama Islam.

Akhirnya mereka diperintahkan untuk membangun sumur dan sebuah kolam. Setelah pembangunan keduanya diselesaikan, maka dengan kekuasaan Allah turun hujan yang sangat lebat, membasahi seluruh daratan yang tandus. Sejak itu pula tanah yang kering berubah menjadi subur. Sedangkan warga yang terserang wabah penyakit dapat sembuh, dengan cara mandi di kolam buatan tersebut. Dengan demikian kota yang dahulunya mati, kini secara berangsur-angsur kehidupan masyarakatnya menjadi sejahtera.

3. Mengislamkan tawanan

Setelah tatanan kehidupan masyarakat Gujarat berubah dari kehidupan yang kekeringan dan hidup miskin menjadi subur serta masyarakatnya hidup sejahtera, maka Habib Husein melanjutkan hijrahnya ke daratan Asia Tenggara untuk tetap mensiarkan Islam. Beliau menuju pulau Jawa, dan akhirnya menetap di Batavia. Pada masa itu hidup dalam jajahan pemerintahan VOC Belanda.

Pada suatu malam Habib Husein dikejutkan oleh kedatangan seorang yang berlari padanya karena dikejar oleh tentara VOC. Dengan pakaian basah kuyub ia meminta perlindungan karena akan dikenakan hukuman mati. Ia adalah tawanan dari sebuah kapal dagang Tionghoa.

Keesokan harinya datanglah pasukan tentara berkuda VOC ke rumah Habib Husein untuk menangkap tawanan yang dikejarnya. Beliau tetap melindungi tawanan tersebut sambil berkata, “Aku akan melindungi tawanan ini dan aku adalah jaminannya.”

Rupanya ucapan tersebut sangat didengar oleh pasukan VOC. Semua menundukkan kepala dan akhirnya pergi, sedangkan tawanan Tionghoa itu sangat berterima kasih, sehingga akhirnya ia memeluk Islam.

4. Menjadi Imam di Penjara

Dalam waktu singkat telah banyak orang yang datang untuk belajar agama Islam. Rumah Habib Husein banyak dikunjungi para muridnya dan masyarakat luas. Hilir mudiknya umat yang datang membuat penguasa VOC menjadi khawatir akan menggangu keamanan. Akhirnya Habib Husein beserta beberapa pengikut utamanya ditangkap dan dimasukkan ke penjara Glodok. Bangunan penjara itu juga dikenal dengan sebutan “Seksi Dua.”

Rupanya dalam tahanan Habib Husein ditempatkan dalam kamar terpisah dan ruangan yang sempit, sedangkan pengikutnya ditempatkan di ruangan yang besar bersama tahanan yang lain.

Polisi penjara dibuat terheran-heran karena ditengah malam melihat Habib Husein menjadi imam di ruangan yang besar, memimpin shalat bersama-sama para pengikutnya. Hingga menjelang subuh masyarakat di luar pun ikut bermakmum. Akan tetapi anehnya dalam waktu yang bersamaan pula polisi penjara tersebut melihat Habib Husein tidur nyenyak di kamar ruangan yang sempit itu, dalam keadaan tetap terkunci.

Kejadian tersebut berkembang menjadi buah bibir dikalangan pemerintahan VOC. Dengan segala pertimbangan akhirnya pemerintah Belanda meminta maaf atas penahanan tersebut, Habib Husein beserta semua pengikutnya dibebaskan dari tahanan.

5. Si Sinyo menjadi Gubernur

Pada suatu hari Habib Husein dengan ditemani oleh seorang mualaf Tionghoa yang telah berubah nama menjadi Abdul Kadir duduk berteduh di daerah Gambir. Disaat mereka beristirahat lewatlah seorang Sinyo (anak Belanda) dan mendekat ke Habib Husein. Dengan seketika Habib Husein menghentakkan tangannya ke dada anak Belanda tersebut. Si Sinyo kaget dan berlari ke arah pembantunya.

Dengan cepat Habib Husein meminta temannya untuk menghampiri pembantu anak Belanda tersebut, untuk menyampaikan pesan agar disampaikan kepada majikannya, bahwa kelak anak ini akan menjadi seorang pembesar di negeri ini.

Seiring berjalannya waktu, anak Belanda itu melanjutkan sekolah tinggi di negeri Belanda. Kemudian setelah lulus ia diangkat menjadi Gubernur Batavia.

6. Cara Berkirim Uang

Gubernur Batavia yang pada masa kecilnya telah diramal oleh Habib Husein, bahwa kelak akan menjadi orang besar di negeri ini, ternyata memang benar adanya. Rupanya Gubernur muda itu menerima wasiat dari ayahnya yang baru saja meninggal dunia. Diwasiatkan kalau memang apa yang dikatakan Habib Husein menjadi kenyataan diminta agar ia membalas budi dan jangan melupakan jasa Habib Husein.

Akhirnya Gubernur Batavia menghadiahkan beberapa karung uang kepada Habib Husein. Uang itu diterimanya, tetapi dibuangnya ke laut. Demikian pula setiap pemberian uang berikutnya, Habib Husein selalu menerimanya, tetapi juga dibuangnya ke laut. Gubernur yang memberi uang menjadi penasaran dan akhirnya bertanya mengapa uang pemberiannya selalu di buang ke laut. Dijawab oleh Habib Husein bahwa uang tersebut dikirimkan untuk ibunya ke Yaman.

Gubernur itu dibuatnya penasaran, akhirnya diperintahkan penyelam untuk mencari karung uang yang di buang ke laut, walhasil tak satu keping uang pun diketemukan. Selanjutnya Gubernur Batavia tetap berupaya untuk membuktikan kebenaran kejadian ganjil tersebut, maka ia mengutus seorang ajudan ke negeri Yaman untuk bertemu dan menanyakan kepada ibu Habib Husein.

Sekembalinya dari Yaman, ajudan Gubernur tersebut melaporkan bahwa benar adanya. Ibu Habib Husein telah menerima sejumlah uang yang dibuang ke laut tersebut pada hari dan tanggal yang sama.

7. Kampung Luar Batang

Gubernur Batavia sangat penuh perhatian kepada Habib Husein. Ia menanyakan apa keinginan Habib Husein. Jawabnya,  “Saya tidak mengharapkan apapun dari tuan.” Akan tetapi Gubernur itu sangat bijak, dihadiahkanlah sebidang tanah di Kampung Baru, sebagai tempat tinggal dan peristirahatan yang terakhir.

Wafatnya

Makam Luar BatangHabib Husein telah dipanggil ole Allah  dalam usia muda, ketika berumur kurang lebih 30-40 tahun. Meninggal pada hari Kamis tanggal 17 Ramadhan 1169 atau bertepatan tanggal 27 Juni 1756 M. Sesuai dengan peraturan pada masa itu bahwa setiap orang asing, harus dikuburkan di pemakaman khusus yang terletak di Tanah Abang.


Sebagaimana layaknya, jenazah Habib Husein diusung dengan kurung batang (keranda). Ternyata sesampainya di pekuburan jenazah Habib Husein tidak ada dalam kurung batang. Anehnya jenazah Habib Husein kembali berada di tempat tinggal semula, dengan kata lain jenazah Habib Husein keluar dari kurung batang. Pengantar jenazah mencoba kembali mengusung jenazah Habib Husein ke pekuburan yang dimaksud, namun demikian jenazah Habib Husein tetap saja keluar dan kembali ke tempat tinggal semula.

Akhirnya para pengantar jenasah memahami dan bersepakat untuk memakamkan jenazah Habib Husein di tempat yang merupakan rumah tinggalnya. Kemudian orang menyebutnya “Kampung Baru Luar Batang” dan kini dikenal sebagai “Kampung Luar Batang.”

Peringatan tahunan di Makam Keramat Luar Batang

  • Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, pada minggu terakhir di bulan Rabiul Awal
  • Peringatan Haul Al-Habib Husein bin Abu Bakar Al Aydrus, Keramat Luar Batang pada hari Minggu terakhir di bulan Syawal
  • “Akhir ziarah” pada bulan Syaban, yaitu pada 3 (tiga) hari atau 7 (tujuh) hari menjelang bulan suci Ramadhan.

Sumber: aswaja.net

 

Mbah Priok; Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad

Pintu Gerbang Makam Habib Hasan bin Muhammad al HaddadPintu Gerbang Makam Habib Hasan bin Muhammad al Haddad 

Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad lahir di di Ulu, Palembang, Sumatera selatan, pada tahun 1291 H / 1870 M. Semasa kecil beliau mengaji kepada kakek dan ayahnya di Palembang. Saat remaja, beliau mengembara selama babarapa tahun ke Hadramaut, Yaman, untuk belajar agama, sekaligus menelusuri jejak leluhurnya,Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, Shohib Ratib Haddad, yang hingga kini masih dibaca sebagian besar kaum muslimin Indonesia. Beliau menetap beberapa tahun lamanya, setelah itu kembali ke tempat kelahirannya, di Ulu, Palembang

Ketika petani Banten, dibantu para Ulama, memberontak kepada kompeni Belanda (tahun 1880), banyak ulama melarikan diri ke Palembang; dan disana mereka mendapat perlindungan dari Habib Hasan. Tentu saja pemerintah kolonial tidak senang. Dan sejak itu, beliau selalu diincar oleh mata-mata Belanda.

Pada tahun 1899, ketika usianya 29 tahun, beliau berkunjung ke Jawa, ditemani saudaranya, Habib Ali Al-Haddad, dan tiga orang pembantunya, untuk berziarah ke makam Habib Husein Al Aydrus di Luar Batang, Jakarta Utara, Sunan Gunung Jatidi Cirebon dan Sunan Ampel di Surabaya. Dalam perjalanan menggunakan perahu layar itu, beliau banyak menghadapi gangguan dan rintangan. Mata-mata kompeni Belanda selalu saja mengincarnya. Sebelum sampai di Batavia, perahunya di bombardier oleh Belanda. Tapi Alhamdulillah, seluruh rombongan hingga dapat melanjutkan perjalanan sampai di Batavia.

Dalam perjalanan yang memakan waktu kurang lebih dua bulan itu, mereka sempat singgah di beberapa tempat. Hingga pada sebuah perjalanan, perahu mereka dihantam badai. Perahu terguncang, semua perbekalan tumpah ke laut. Untunglah masih tersisa sebagian peralatan dapur, antara lain periuk, dan beberapa liter beras. Untuk menanak nasi, mereka menggunakan beberapa potong kayu kapal sebagai bahan bakar. Beberapa hari kemudian, mereka kembali dihantam badai. Kali ini lebih besar. Perahu pecah, bahkan tenggelam, hingga tiga orang pengikutnya meninggal dunia. Dengan susah payah kedua Habib itu menyelamatkan diri dengan mengapung menggunakan beberapa batang kayu sisa perahu. Karena tidak makan selama 10 hari, akhirnya Habib Hasan jatuh sakit, dan selang beberapa lama kemudian beliaupun wafat.

Sementara Habib Ali Al-Haddad masih lemah, duduk di perahu bersama jenazah Habib Hasan, perahu terdorong oleh ombak-ombak kecil dan ikan lumba-lumba, sehingga terdampar di pantai utara Batavia. Para nelayan yang menemukannya segera menolong dan memakamkan jenazah Habib Hasan. Kayu dayung yang sudah patah digunakan sebagai nisan dibagian kepala; sementara di bagian kaki ditancapkan nisan dari sebatang kayu sebesar kaki anak-anak. Sementara periuk nasinya ditaruh disisi makam. Sebagai pertanda, di atas makamnya ditanam bunga tanjung. Masyarakat disekitar daerah itu melihat kuburan yang ada periuknya itu di malam hari selalu bercahaya. Lama-kelamaan masyarakat menamakan daerah tersebut Tanjung periuk. Sesuai yang mereka lihat di makam Habib Hasan, yairtu bunga tanjung dan periuk.

Konon, periuk tersebut lama-lama bergeser dan akhirnya sampai ke laut.
Banyak orang yang bercerita bahwa, tiga atau empat tahun sekali, periuk tersebut di laut dengan ukuran kurang lebih sebesar rumah. Diantara orang yang menyaksikan kejadian itu adalah anggota TNI Angkatan Laut, sersan mayor Ismail. Tatkala bertugas di tengah malam, ia melihat langsung periuk tersebut.

Karena kejadian itulah, banyak orang menyebut daerah itu : Tanjung Periuk.
Sebenarnya tempat makam yang sekarang adalah makam pindahan dari makam asli. Awalnya ketika Belanda akan menggusur makam Habib Hasan, mereka tidak mampu, karena kuli-kuli yang diperintahkan untuk menggali menghilang secara misterius. Setiap malam mereka melihat orang berjubah putih yang sedang berdzikir dengan kemilau cahaya nan gemilang selalu duduk dekat nisan periuk itu. Akhirnya adik Habib Hasan, yaitu Habib Zein bin Muhammad Al-Haddad, dipanggil dari Palembang khusus untuk memimpin doa agar jasad Habib Hasan mudah dipindahkan. Berkat izin Allah swt, jenazah Habib Hasan yang masih utuh, kain kafannya juga utuh tanpa ada kerusakan sedikitpun, dipindahkan ke makam sekarang di kawasan Dobo, tidak jauh dari seksi satu sekarang.

Salah satu karomah Habib Hasan adalah suatu saat pernah orang mengancam Habib Hasan dengan singa, beliau lalu membalasnya dengan mengirim katak. Katak ini dengan cerdik lalu menaiki kepala singa dan mengencingi matanya. Singa kelabakan dan akhirnya lari terbirit-birit.

( Al – Kisah No. 07 / Tahun III / 28 Maret – 10 April 2005 & No. 08 / Tahun IV / 10-23 April 2006 )

Sumber MT Ashalatu ‘Alan Nabi

Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A kurang lebih 23 tahun dimaqamkan, pemerintah belanda pada saat itu bermaksud membangun pelabuhan di daerah itu. Pada saat pembangunan berlangsung banyak sekali kejadian yang menimpa ratusan pekerja (kuli) dan opsir belanda sampai meninggal dunia. Pemerintah belanda menjadi bingung dan heran atas kejadian tersebut dan akhirnya menghentikan pembangunan yang sedang dilaksanakan.

Rupanya pemerintah belanda masih ingin melanjutkan pembangunan pelabuhan tersebut dengan cara pengekeran dari seberang (sekarang dok namanya), alangkah terkejutnya mereka saat itu ketika melihat ada orang berjubah putih sedang duduk dan memegang tasbih di atas maqam. Maka dipanggil beberapa orang mandor untuk membicarakan peristiwa tersebut. Setelah berembuk diputuskan mencari orang yang berilmu yang dapat berkomunikasi dengan orang yang berjubah putih yang bukan lain adalah Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A. setelah berhasil bertemu orang berilmu yang dimaksud (seorang kyai) untuk melakukan khatwal, alhasil diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1.Apabila daerah (tanah) ini dijadikan pelabuhan oleh pemerintah  belanda tolong sebelumnya pindahkanlah saya terlebih dulu dari tempat ini.
2.Untuk memindahkan saya, tolong hendaknya hubungi terlebih dulu adik saya yang bernama Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A yang bertempat tinggal di Ulu Palembang, Sumatera Selatan.

Akhirnya pemerintah belanda menyetujui permintaan Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A (dalam khatwalnya) kemudian dengan menggunakan kapal laut mengirim utusannya termasuk orang yang berilmu tadi untuk mencari Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A yang bertempat tinggal di Ulu, Palembang.

Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A sangat mudah ditemukan di Palembang, sehingga dibawalah langsung ke Pulau Jawa untuk membuktikan kebenarannya. Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A dalam khatwalnya membenarkan “Ini adalah maqam saudaraku Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A yang sudah lama tidak ada kabarnya.”

Selama kurang lebih 15 hari lamanya Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A menetap untuk melihat suasana dan akhirnya Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A dipindahkan di jalan Dobo yang masih terbuka dan luas. Dalam proses pemindahan jasad Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A masih dalam keadaan utuh disertai aroma yang sangat wangi, sifatnya masih melekat dan kelopak matanya bergetar seperti orang hidup.

Setelah itu Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A meminta kepada pemerintah belanda agar maqam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A itu dipagar dengan kawat yang rapih dan baik serta diurus oleh beberapa orang pekerja. Pemerintah belanda pun memenuhi permintaan Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A.

Setelah permintaan dipenuhi Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A meminta waktu 2 sampai 3 bulan lamanya untuk menjemput keluarga beliau yang berada di Ulu, Palembang. Untuk kelancaran penjemputan itu, pemerintah belanda memberikan fasilitas. Dalam kurun waktu yang dijanjikan Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A kembali ke Pulau Jawa dengan membawa serta keluarga beliau.

Dalam pemindahan jenazah Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadda R.A tersebut banyak orang yang menyaksikan diantaranya :
1.Al Habib Muhammad Bin Abdulloh Al Habsy R.A
2.Al Habib Ahmad Dinag Al Qodri R.A, dari gang 28
3.K.H Ibrahim dari gang 11
4.Bapak Hasan yang masih muda sekali saat itu
5.Dan banyak lagi yang menyaksikan termasuk pemerintah belanda

Kemudian Bapak Hasan menjadi penguru maqam Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadda R.A. Saat ini semua saksi pemindahan tersebut sudah meninggal. Merekalah yang menyaksikan dan mengatakan jasad Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadda R.A masih utuh dan kain kafannya masih mulus dan baik, selain itu wangi sekali harumnya.

Dipemakaman itulah dikebumikan kembali jasad Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadad R.A yang sekarang ini pelabuhan PTK (terminal peti kemas) Koja Utara, Kecamatan Koja, Tanjung Priuk – Jakarta Utara.

Setelah pemindahan maqam banyak orang yang berziarah ke maqam Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadda R.A sebagaimana yang diceritakan oleh putera Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A yaitu Al Arif Billah Al Habib Ahmad Bin Zein Al Haddad R.A.

Pada Tahun 1841 Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A di gang 12 kelurahan Koja Utara kedatangan tamu yaitu Al Arif Billah Al Habib Ali Al Haddad R.A (orang yang selamat dalam perjalanan dari Ulu, Palembang ke Pulau Jawa) dan beliau menceritakan kejadian yang dialaminya bersama Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadad R.A beserta 3 orang azami. Cerita tersebut disaksikan Al Arif Billah Al Habib Ahmad Bin Zein Al Haddad R.A. Dari cerita itulah maka dijadikannya Maqib Maqom Kramat Situs Sejarah Tanjung Priuk (dalam pelabuhan peti kemas (TPK) Koja, Tanjung Priuk, Jakarta Utara).

Sumber: http://blog.its.ac.id/syafii/2010/04/14/manaqib-sejarah-profil-habib-hasan-bin-muhammad-al-haddad-pelabuhan-petikemas-tanjung-priok-mbak-priok/

KIPRAH ALAWIYIN DALAM SYIAR ISLAM DI INDONESIA X

Nizla Fatimah Mantiri 20 Desember jam 11:56 BalasLaporkan
SYEKH MUHAMMAD AINUL YAQIN 

Syekh Muhammad Ainul Yaqin yang dikenal juga dengan sebutan Sunan Giri alias Joko Samudero alias Raden Paku alias Prabu Satmoto alias Sultan Abdul Faqih alias Raja Gunung alias Kyai Ngarobi, adalah keturunan ke-24 dari Nabi Muhammad saw. Beliau adalah putera dari Syekh Maulana Ishaq (Sunan Wali Lanang) kakak dari Sayyid Ali Ahmad Rahmatullah (Sunan Ampel) yang menetap di Pasai, Aceh sekarang. Sedangkan ibunya bernama Dewi Sekardadu, adalah putri Prabu Menak Sembuyu, raja Kerajaan Hindu Blambangan. Nasab beliau selengkapnya adalah Syekh Muhammad Ainul Yaqin bin Syekh Maulana Ishaq bin Maulana Jamaluddin Husein alias Maulana Ahmad Jumadil Qubra bin Ahmad Jalaluddin bin Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad SAW. Beliau lahir di Blambangan, Banyuwangi sekarang, pada tahun 1442 M. Masa kecil beliau memiliki kisah yang sangat mengharukan.

Awal kisahnya adalah ketika Maulana Ishaq datang mengunjungi kakaknya Sunan Ampel di Jawa Timur. Sunan Ampel kemudian menyarankan Maulana Ishaq untuk berdakwah ke daerah Blambangan.
Tepat ketika itu, masyarakat Blambangan sedang tertimpa wabah penyakit, bahkan putri Raja Blambangan, Dewi Sekardadu-pun ikut terjangkit. Dengan kerendahan hati Maulana Ishaq mau mengobati Dewi Sekardadu, asalkan Prabu Menak Sembuyu dan keluarganya bersedia masuk Islam. Alhamdulillah Dewi Sekardadu-pun akhirnya sembuh, kemudian puteri Blambangan ini dinikahkan dengan Maulana Ishaq.

Sayangnya, Prabu Menak Sembuyu tidak sepenuh hati menjadi seorang muslim. Malah raja berusaha menghalangi jalannya syiar Islam dengan mengutus orang kepercayaannya untuk berencana membunuh Maulana Ishaq. Hal ini memaksa Maulana Ishaq untuk meninggalkan Blambangan dan kembali ke Pasai. Sebelum berangkat, beliau berpesan kepada isterinya Dewi Sekardadu yang pada saat itu sedang mengandung tujuh bulan, agar kelak anak yang dilahirkan diberi nama Raden Paku. Setelah puterinya melahirkan, Prabu Menak Sembuyu melampiaskan kebenciannya kepada bayi laki-laki mungil tak berdosa tersebut dengan membuangnya ke laut dalam sebuah peti.

Singkat cerita, peti tersebut ditemukan oleh Nyai Ageng Pinatih alias Nyai Semboja dari Gresik. Sejak saat itu bayi laki-laki yang berada didalam peti ini diberinya nama Joko Samudero, kemudian diasuh dan dibesarkannya. Menginjak usia 12 tahun, Joko Samudero dititipkan ke padepokan Ampel Denta, untuk belajar agama Islam.
Karena kecerdasannya, beliau diberi gelar ”Muhammad `Ainul Yaqin”. Selanjutnya, Sunan Ampel mengutus Ainul Yaqin ditemani Makdhum Ibrahim, putra Sunan Ampel untuk menimba ilmu ke Pasai, menemui Maulana Ishaq, ayahnya.

Ketika mereka akan kembali ke Jawa setelah 3 tahun di Pasai, Maulana Ishaq membekali Raden Paku dengan segenggam tanah. Dan memintanya mendirikan pesantren di sebuah tempat yang warna dan bau tanahnya sama dengan yang diberikannya. Sesuai permintaan ayahnya beliau kemudian membuka sebuah pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit berarti “giri”. Maka selanjutnya beliau dijuluki Sunan Giri.

Pesantren Giri kemudian berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri diberi gelar Prabu Satmoto pada 9 Maret 1487 M yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Gresik. Pesantren Giri Kedaton berperan kuat sebagai pusat dakwah Islam di wilayah Jawa dan Indonesia Timur pada kala itu. Para santri pesantren Giri dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Pesantren Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun.

Sunan Giri selain dikenal sebagai ahli politik dan ketatanegaraan beliau juga dikenal ahli dalam ilmu fiqih. Masyarakat menyebutnya sebagai Sultan Abdul Faqih. Beliau diakui sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan setanah Jawa. Beliau adalah anggota pengurus majelis da’wah Wali Songo masa bakti 1463 – 1466 M.

Selain itu beliau juga adalah seorang pencinta karya seni. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran disebut-sebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula dalam bidang sastra seperti Gending Asmarandana dan Pucung yang bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam, adalah juga kreasinya.

Sunan Giri memiliki 3 orang isteri yaitu;
1. Dewi Murtosiyah alias Siti Muntosiyah puteri dari Sunan Ampel
2. Siti Wardah puteri dari Sayyid Iskandar alias Ki Ageng Supa Bungkul alias Sunan Bungkul
3. Syarifah Siti Maimunah
Beliau memiliki beberapa putera, namun yang tercatat adalah Jayengresmi alias Syekh Amongraga, Jayengsari dan Rancangkapti. Sedangkan Raden Fatikhal alias Sunan Prapen yang juga anggota majelis da’wah Wali Songo adalah cucunya.

Sunan Giri wafat pada tahun 1506 M, dalam usia 64 tahun. Ia dimakamkan di Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

BERSAMBUNG
SYEKH MAULANA SYARIF HIDAYATULLAH

Catatan Kecil KIPRAH ALAWIYIN DALAM SYIAR ISLAM DI INDONESIA

Nizla Fatimah Mantiri 20 Desember jam 2:18 BalasLaporkan

Catatan Kecil untuk Tulisan KIPRAH ALAWIYIN DALAM SYIAR ISLAM DI INDONESIA dengan sub-judul WALISONGO YANG ALAWIYIN

Sahabat, dalam 3 tulisan sebelumnya yang mengawali sub-judul WALISONGO YANG ALAWIYIN telah kami tampilkan 3 tokoh mubaligh masyur dari majelis da’wah Wali Songo yaitu:
1. SYEKH JUMADIL QUBRA bin Syekh Ahmad Jalaluddin
2. SYEKH MAULANA MALIK IBRAHIM bin Syekh Maulana Barakat Zainal Alam bin SYEKH MAULANA JAMALUDDIN HUSEIN alias SYEKH JUMADIL QUBRA
3. SAYYID ALI AHMAD RAHMATULLAH bin Syekh Maulana Ibrahim As-Samarkhandi/Asmarakandi bin SYEKH MAULANA JAMALUDDIN HUSEIN alias SYEKH JUMADIL QUBRA

Dalam pembahasan selanjutnya akan kami tampilkan 4 tokoh mubaligh masyur lainnya yaitu:
1. SYEKH MUHAMMAD AINUL YAQIN, putera dari Syekh Maulana Ishak
2. RADEN UMAR SAID, cIcit dari Syekh Maulana Manshur
3. SYEKH SYARIF HIDAYATULLAH, cucu dari Syekh Maulana Ali Nurul Alam
4. SYEKH SITI JENAR, cicit dari Syekh Ahmad Jalaluddin

Sedangkan untuk 3 tokoh lainnya seperti; Syekh Maulana Makdhum Ibrahim, Syekh Maulana Hasyim Syarifuddin dan Sayyid Ja’far Shadiq tidak kami tampilkan, sebab ketiga tokoh ini adalah putera dan cucu dari SAYYID ALI AHMAD RAHMATULLAH bin Syekh Maulana Ibrahim As-Samarkhandi/Asmarakandi bin SYEKH MAULANA JAMALUDDIN HUSEIN alias SYEKH JUMADIL QUBRA. Jadi masih satu trah/silsilah.

Demikian pula dengan RADEN SAID ayah dari RADEN UMAR SAID, juga tidak kami tampilkan, sehubungan silsilah alawiyin tersebut jatuh pada isterinya Sharafah/Sharakah yang merupakan cucu dari Syekh Maulana Manshur bin Syekh Ahmad Jalaluddin.

Selain itu untuk melengkapi tulisan ini kami juga akan mengirimkan:
1. Data terbaru dan Insya Allah lebih akurat tentang 11 periode majelis da’wah Wali Songo, dilengkapi dengan lokasi makam para mubaligh tersebut.
2. Monogram Sederhana Silsilah para mubaligh Wali Songo ‘ala’ KETAKA FATIKA MIRA.

Sehubungan dengan begitu banyaknya data yang cukup simpang siur tentang para WALI SONGO YANG ALAWIYIN yang perlu ketelitian untuk mencari akurasinya, maka kami mohon kesabarannya dalam menanti kelanjutan tulisan para mubaligh masyur ini.

Dengan mengucapkan banyak terimakasih atas perhatian, atensi dan kesabaran para sahabat KETAKA FATIKA MIRA, kami pamit dahulu untuk kembali nanti dengan tulisan selanjutnya

SYEKH MUHAMMAD AINUL YAQIN…

KIPRAH ALAWIYIN DALAM SYIAR ISLAM DI INDONESIA IX

Nizla Fatimah Mantiri 18 Desember jam 12:42 BalasLaporkan
AS-SAYYID ALI AHMAD RAHMATULLAH (Sunan Ampel) 

Di dalam Tarikh Auliya karya KH. Bisri Mustofa tercantum nama Rahmatullah sebagai keturunan Nabi Muhammad yang ke-23. Beliau adalah putra Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi alias Ibrahim al-Ghazi alias Ibrahim Zainuddin Al-Akbar dengan seorang putri raja Champa yang bernama Dewi Condro Wulan. Beliau adalah anak kedua dari 3 bersaudara. Saudaranya yang lain bernama Ali Murtadho dan Maulana Ishaq. Adapun nasab lengkap beliau adalah sebagai berikut; Ali Ahmad Rahmatullah bin Maulana Ibrahim Asmarakandi bin Maulana Jamaluddin Husein alias Maulana Ahmad Jumadil Qubra bin Ahmad Jalaluddin bin Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad SAW. Beliau lahir di Campa pada tahun 1401 Masehi. Di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Rahmat. Beliau dikenal juga dengan nama Raden Rahmat dan Sunan Ampel.

Kedatangan Rahmat ke Nusantara bermula dengan kunjungan muhibah Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi alias Ibrahim al-Ghazi seorang ulama asal Samarkhand, Asia Tengah yang datang ke Aceh bersama 3 orang puteranya yang bernama Ali Murtadho, Ali Ahmad Rahmatullah dan Maulana Ishaq (Sunan Wali Lanang). Kunjungan anak beranak ini adalah untuk men-syiar-kan islam di tanah Aceh yang dikenal dengan sebutan ”serambi Mekah” .

Tahun 1440 Sunan Ampel didampingi ayahnya, kakaknya Ali Murtadho, dan sahabatnya Abu Hurairah datang berda’wah ke daerah Palembang dan sekitarnya. Rahmatullah mengadakan kunjungan Islami kepada penguasa Palembang, Adipati Arya Damar. Setelah tiga tahun di Palembang, mereka di undang oleh bibi dari Rahmatullah yaitu putri Anarawati alias Dwarawati alias Darwati isteri raja Majapahit yang bernama Prabu Kertawijaya (Brawijaya I) untuk mengunjunginya di pulau Jawa.

Sementara itu di Jawa menurut sejarah dikisahkan bahwa sepeninggal Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, kejayaan Majapahit mengalami samsara (sengsara) yang tiada habis. Perang saudara berkecamuk di mana-mana. Sementara kehidupan a-moral seperti panggung judi, main perempuan, dan mabuk-mabukan menjadi ”kesibukan” harian kaum bangsawan yang diikuti rakyat kebanyakan. Melihat beban berat yang dipikul suaminya Brawijaya V dalam menentramkan bangsanya, Ratu Anarawati kemudian mengundang Sunan Ampel untuk membantu mengatasi prahara yang tengah terjadi di dalam tubuh Majapahit. Inilah alasan yang membuat Rahmatullah datang ke tanah Jawa.

Pada tahun 1443 rombongan mendarat di kota bandar Tuban, ditempat ini mereka tinggal dan berdakwah untuk beberapa lama. Tidak lama kemudian ayah Rahmatullah, Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi wafat. Makamnya kini masih terpelihara di Desa Gesikharjo, Palang, Tuban. Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Trowulan, ibukota Majapahit, menghadap Prabu Kertawijaya. Di sana, Rahmatullah menyanggupi permintaan raja untuk mendidik moral para bangsawan dan kawula Majapahit.

Setelah beberapa waktu tinggal di wilayah kerajaan Majapahit, Brawijaya I kemudian menghadiahkan daerah Ampel Denta yang berawa-rawa kepada Rahmatullah. Beberapa hari sebelum pelaksanaan pemberian hadiah tanah tersebut, berangkatlah rombongan Rahmatullah ke Ampel. Dari Trowulan, melewati Desa Krian, Wonokromo, berlanjut ke Desa Kembang Kuning. Di sepanjang perjalanan, Rahmatullah terus melakukan dakwah.

Ia membagi-bagikan kipas yang terbuat dari akar tumbuhan kepada penduduk. Mereka cukup membayar kipas itu dengan mengucapkan syahadat. Pengikutnya pun bertambah banyak. Sebelum tiba di Ampel, Rahmatullah membangun langgar (musala) sederhana di Kembang Kuning, sekitar 8 kilometer dari Ampel.

Langgar ini kemudian menjadi besar, megah, dan bertahan sampai sekarang. Langgar kemudian diberi nama Masjid Rahmat. Setibanya di Ampel, langkah pertama Rahmatullah adalah membangun masjid sebagai pusat ibadah dan dakwah. Kemudian ia membangun pesantren, mengikuti model Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Format pesantrennya mirip konsep biara yang sudah dikenal masyarakat Jawa.

Dengan penuh kearifan, sabar dan santun, beliau memperkenalkan Islam kepada para penduduk sekitar pondok pesantren. Perlahan namun pasti pada pertengahan Abad 15 pesantren tersebut berkembang pesat dan menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Jadilah Pesantren Ampel Denta, Surabaya, menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam tertua di Jawa. Wilayah ini kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang).

Rahmatullah memang dikenal memiliki kepekaan adaptasi. Caranya menanamkan akidah dan syariat sangat memperhatikan kondisi masyarakat. Kata salat diganti dengan ”sembahyang” (asalnya: sembah dan hyang). Tempat ibadah tidak dinamai musala, tapi ”langgar”, mirip kata sanggar. Penuntut ilmu disebut ”santri”, berasal dari shastri yang artinya orang yang tahu buku suci agama Hindu. Pada para santrinya ia memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah.

Siapa pun, bangsawan atau rakyat jelata, bisa nyantri pada Rahmatullah. Meski menganut mazhab Hanafi, beliau sangat toleran pada penganut mazhab lain. Santrinya dibebaskan ikut mazhab apa saja. Dengan cara pandang netral itu, pendidikan di Ampel mendapat simpati kalangan luas. Setelah selesai menuntut ilmu agama dan dilihat telah mampu ber-syiar, para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura. Dari sinilah sebutan ”Sunan Ampel” mulai populer. Di antara para santrinya adalah Makdum Ibrahim dan Syarifuddin (putera-puteranya sendiri), Ainul Yaqin dan Raden Patah.

Ajarannya yang terkenal adalah falsafah MOH LIMO. Yang artinya tidak melakukan lima hal tercela, yakni;
– moh main (tidak mau judi)
– moh ngombe (tidak mau mabuk)
– moh maling (tidak mau mencuri)
– moh madat (tidak mau mengisap candu)
– moh madon (tidak mau berzina)
Falsafah ini sejalan dengan problem kemerosotan moral warga yang dikeluhkan Prabu Kertawijaya.

Sunan Ampel umumnya dianggap sebagai sesepuh oleh para wali lainnya. Beliau termasuk mubaligh Wali Songo yang tekun dan pantang menyerah. Terbukti ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa tersebut pada tahun 1475 M. Sedangkan pada tahun Saka 1401 atau tahun 1478 M, Sunan Ampel ikut memberikan andil yang tidak sedikit dalam mendirikan Mesjid Agung Demak.

Sunan Ampel memiliki 3 orang isteri, isteri pertamanya bernama Dewi Condrowati ketika masuk Islam berganti nama menjadi Rohana yang bergelar Nyai Ageng Manila, putri adipati Tuban bernama Arya Teja, isteri keduanya bernama Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning sedangkan isteri yang ketiga bernama Nyai Ageng Bela, keponakan Arya Teja. Dari pernikahannya dengan Dewi Condrowati beliau memperoleh 6 orang anak yaitu:
– Siti Syari’ah atau Syarifah
– Siti Muthmainah
– Siti Hafsah
– Maulana Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang)
– Maulana Hasyim Syarifuddin (Sunan Derajat)
Dari pernikahannya dengan Dewi Karimah beliau memperoleh 2 orang anak yaitu:
– Dewi Murtasiyah alias Siti Muntosiyah
– Dewi Murtasimah alias Nyai Ageng Maloka
Sedangkan dari pernikahannya dengan Nyai Ageng Bela
– Raden Faqih (Sunan Ampel 2)
– Maulana Ahmad Husamuddin alias Raden Husamuddin (Sunan Lamongan)
– Raden Zainal Abidin (Sunan Demak)
– Dewi Mursimah alias Asyiqah
– Maulana Abdul Jalil alias Raden Asmoro alias Pangeran Tumapel
Sejak pernikahannya dengan Nyai Ageng Manila, gelar pangeran dengan sebutan raden (dari kata rahadiyan yang berarti tuanku) melekat di depan namanya. Raden Rahmat diperlakukan layaknya keluarga keraton kerajaan Majapahit.

Dikemudian hari anak-anak gadisnya dinikahkan dengan para mubaligh Wali Songo yang masyur seperti;
– Siti Syari’ah atau Syarifah menjadi isteri Sunan Kudus
– Dewi Murtasiyah alias Siti Muntosiyah diperistri Sunan Giri
– Dewi Murtasimah alias Nyai Ageng Maloka menikah dengan Sunan Kota
– Dewi Mursimah alias Asyiqah yang dinikahkan dengan Sunan Kalijaga.

Dalam Babad Gresik disebutkan tahun 1481, dengan candrasengkala ”Ngulama Ampel Seda Masjid” dalam Serat Kanda edisi Brandes yang berarti tahun saka berangka 1406, As-Sayyid Ali Ahmad Rahmatullah menghembuskan napas terakhir. Cerita tutur menyebutkan, beliau wafat saat sujud di masjid. Ia dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, di areal seluas 1.000 meter persegi, bersama ratusan santrinya.

Kompleks makam tersebut dikelilingi tembok besar setinggi 2,5 meter. Makam Sunan Ampel bersama istri dan lima kerabatnya dipagari baja tahan karat setinggi 1,5 meter, melingkar seluas 64 meter persegi. Khusus makam Sunan Ampel dikelilingi pasir putih.

BERSAMBUNG
INFORMASI PERKEMBANGAN PERIODE WALI SONGO TERKINI

KIPRAH ALAWIYIN DALAM SYIAR ISLAM DI INDONESIA VIII

Nizla Fatimah Mantiri 16 Desember jam 7:42 BalasLaporkan

SYEKH MAULANA MALIK IBRAHIM

Di batu nisan makam seorang Waliullah yang terletak di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur , yang wafat pada 12 Rabiul Awal 822 Hijriah, atau 8 April 1419, pada latarnya tertulis ayat suci Al-Quran dari surat Ali Imran 185, Ar-Rahman 26-27, At-Taubah 21-22, dan Ayat Kursi. Dilengkapi juga dengan rangkaian kata pujian dalam bahasa Arab yang berarti: ”Ia guru yang dibanggakan para pejabat, tempat para sultan dan menteri meminta nasihat. Orang yang santun dan murah hati terhadap fakir miskin. Orang yang berbahagia karena mati syahid, tersanjung dalam bidang pemerintahan dan agama.”

Dari kata-kata tersebut kita bisa merasakan betapa mahabbahnya masyarakat pada saat itu kepada tokoh masyur ini. Siapakah waliullah yang sangat melekat dihati para pengikutnya ini? Beliau tak lain adalah Syekh Maulana Malik Ibraihm. Ia dikenal juga dengan Sunan Gresik, atau Sunan Tandhes, atau Mursyid Akbar Thariqat Wali Songo. Dalam cerita rakyat Jawa terkenal dengan julukan Kakek Bantal. Beliau terkenal sebagai ahli pertanian dan ahli pengobatan.

Maulana Malik Ibrahim diperkirakan lahir di Samarkhand, Asia Tengah, pada paruh awal abad ke-14. Beliau adalah keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad. Ia adalah cucu dari Syekh Jumadil Qubra. Lengkapnya adalah Maulana Malik Ibrahim bin Barakat Zainal Alam bin Maulana Jamaluddin Husein alias Maulana Ahmad Jumadil Qubra bin Ahmad Jalaluddin bin Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad SAW. Nasab ini sesuai dengan catatan dari Bahruddin Ba’alawi Al-Husaini yang kumpulan catatannya kemudian dibukukan dalam Ensiklopedi Nasab Ahlul Bait yang terdiri dari beberapa jilid.

Maulana Malik Ibrahim umumnya dianggap sebagai wali pertama yang mendakwahkan Islam di tanah Jawa. Sebagaimana catatan Drewes dalam bukunya, New Light on the Coming of Islam in Indonesia yang berbunyi ”Ia seorang mubalig paling awal”. Beliau adalah pendiri majelis da’wah yang diberi nama Wali Songo sekitar tahun 1404 Masehi (808 Hijriah).

Ketika Maulana Malik Ibrahim tiba di pulau Jawa daerah yang ditujunya pertama kali adalah desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit pada masa itu. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.
Aktivitas pertama yang dilakukan Sunan Gresik setibanya di Sembalo adalah berdagang dengan cara membuka warung yang menyediakan kebutuhan bahan pokok dengan harga murah. Beliau juga secara khusus menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib beliau pernah diundang untuk mengobati istri raja Majapahit yang bernama Puteri Anarawati yang berasal dari Campa (sekarang Kamboja).

Dalam hubungan sosial Kakek Bantal berupaya merangkul rakyat kebanyakan atau masyarakat kasta terendah dalam agama Hindu yaitu Sudra. Beliau berusaha menarik hati rakyat yang kala itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara yaitu dengan mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Beliau juga membangun pondokan tempat belajar agama di Leran, Gresik.

Dalam kiprah syiarnya Sunan Tandhes berda’wah dengan cara yang penuh bijaksana dan beradaptasi dengan masayarakat disekelilingnya. Agama dan adat istiadat lama tidak langsung ditentangnya dengan frontal atau penuh kekerasan melainkan beliau perkenalkan kemuliaan dan ketinggian akhlak yang diajarkan oleh agama Islam. Beliau langsung memberi contoh nyata kepada masyarakat, dengan menggunakan tutur bahasa yang sopan, lemah lembut, santun pada fakir miskin, hormat pada yang lebih tua dan menyanyangi kaum muda. Perlahan namun pasti ternyata banyak juga rakyat Jawa yang mulai tertarik pada agama Islam yang pada akhirnya mereka menjadi pemeluk agama Islam yang teguh.

Maulana Malik Ibrahim memiliki 3 orang isteri yang masing-masing bernama:
1. Siti Fathimah binti Ali Nurul Alam yang memberinya 2 orang anak yang masing-masing bernama Maulana Moqfaroh dan Syarifah Sarah
2. Siti Maryam binti Syaikh Subakir, dari pernikahan ini lahirlah 4 orang anak yaitu; Abdullah, Ibrahim, Abdul Ghafur, dan Ahmad
3. Wan Jamilah binti Maulana Ibrahim Asmaraqandi, beliau diberi 2 orang anak yaitu Abbas dan Yusuf.

BERSAMBUNG
AS-SAYYID ALI RAHMATULLAH (Sunan Ampel)

KIPRAH ALAWIYIN DALAM SYIAR ISLAM DI INDONESIA VII

Nizla Fatimah Mantiri 15 Desember jam 10:43 BalasLaporkan

SYEKH MAULANA MALIK IBRAHIM

Sebelum kita membahas tentang kiprah Syekh Maulana Malik Ibrahim ada baiknya kita mengetahui dahulu tentang gelar atau sebutan para mubaligh majelis da’wah Wali Songo yang banyak menyandang kata Syekh, Maulana, Maghribi/Maghrubi dan Akbar. Sebab kata-kata tersebut bukanlah nama asli dari para mubaligh ini, ironinya banyak diantara kita orang awam menganggap kata-kata tersebut adalah nama sesungguhnya.

SYEKH
Bila mendengar kata “Syekh” tentu yang ada dibenak kita, seorang yang sudah “sepuh” (tua), yang alim, bijaksana, dan berwawasan luas. Menurut keterangan dalam Ensiklopedi Islam, ternyata kata “Syekh” mempunyai banyak arti. Di antaranya sebagai berikut:
– Syekh adalah sebutan kepada orang Arab keturunan Nabi Muhammad atau para sahabat Nabi
– Syekh bisa berarti orang yang sudah lanjut usia. Orang Jawa menyebutnya “mbah”
– Syekh bagi bangsa Arab sesudah Islam merupakan gelar kehormatan bagi ulama. Sedangkan pada masa pra Islam, syekh digunakan sebagai gelar kepala suku (qabilah)
– Syekh juga bisa digunakan untuk gelar keagamaan dan pengajaran, biasanya dirangkai dengan kata-kata yang menunjukkan mata pelajaran, misalnya Syekh al Qur’an berarti orang yang mumpuni dalam bidang Alquran
– Syekh juga mempunyai makna orang yang berhak mengeluarkan fatwa, biasanya disebut Syekh al Fitya
– Dalam dunia tasawuf juga terdapat istilah syekh yang bisa diartikan fungsionaris (guru) dalam kalangan kaum sufi
– Pada abad pertengahan, syekh juga bisa digunakan dalam dunia profesi atau pekerjaan. Dalam hal ini syekh berarti kepala atau ketua dari kelompok profesi atau pekerjaan
– Syekh pada jaman sekarang juga populer di lingkungan akademik, seperti Syekh al Jami’ al Azhar artinya Rektor al Azhar ( Universitas di Kairo, Mesir)

Jadi gelar Syekh diberikan masyarakat kepada para mubaligh yang bernasab (keturunan) Nabi Muhammad dan ahli ilmu agama Islam.

MAULANA
Sedangkan kata Maulana adalah;
– Sebuah gelar kehormatan untuk para nabi (sbg pembimbing umat)
– Juga gelar kehormatan bagi ulama besar atau sufi
– Berarti tuan kita/kami
– Bisa juga berarti tabah

Jadi gelar Maulana diberikan kepada para mubaligh yang dalam kiprah syiarnya mampu menghadapi segala ujian dan tantangan dari masyarakat di tempat mereka berda’wah dengan tetap amanah, sabar, lemah lembut dan rendah hati.

MAGHRIBI/MAGHRUBI
Kata Maghribi atau Maghribi sering kita jumpai disepanjang wisata ziarah Islam di Nusantara ini. Sebenarnya kata tersebut secara harafiah berarti yang datang dari negara-negara yang terletak di sebelah barat dari Indonesia, atau yang datang dari negara-negara arah matahari terbit seperti negara-negara di benua Afrika sebelah utara; Maroko, Tunisia, Aljazair, dll.

Dalam bahasa Arab maghribi/maghrubi (al-Maġrib al-Arabi) memiliki arti “tempat matahari terbenam” (place of sunset)

Dalam perkembangan peradaban Islam kata “Maghrib” adalah konsep yang dibuat oleh kaum Muslim yang berada di tengah-tengah peradaban Islam klasik untuk menandakan perbedaan Islam di jazirah Arab dengan Islam di Maghrib.

Maka kesimpulan dari kata maghribi/maghrubi adalah para ulama atau mubaligh yang datang dari negara-negara matahari terbit. Karena pada masa pen-syiar-an kurang memperhatikan penulisan nama asli dari mubaligh tersebut pada batu nisan, atau mungkin telah terhapus oleh satu dan lain hal, maka orang setempat menyebutnya Al-Maghribi/Maghrubi.

AKBAR
Sedangkan kata Akbar dalam bahasa Arab artinya adalah ”yang besar”
Jadi para mubaligh yang berhasil dan masyur dalam men-syiar-kan Islam diberi gelar tersebut.

BERSAMBUNG

Previous Older Entries