LEGENDA SUNDA-GALUH (PAJAJARAN)

Nizla Fatimah Mantiri 04 Oktober jam 0:16 BalasLaporkan

PRABU KIAN SANTANG

Bisakah kita mengetahui asal usul Kian Santang sebenarnya? Sepertinya agak sulit untuk menjawab pertanyaan ini, karena begitu banyak versi cerita yang berkembang dalam masyarakat Sunda, seperti bisa kita lihat dibawah ini antara lain;

1. Dalam Naskah ’Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian’ (1518 M) oleh P.S. Sulendraningrat, Kian Santang atau Walangsungsang merupakan anak pertama dari tiga bersaudara yaitu Nyai Rara Santang lahir sekitar tahun 1426 M dan Raja Sangara lahir sekitar tahun 1428 M. Dari hasil perkawinan antara Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang.
2. Sedangkan dalam naskah kuno ‘Carita Purwaka Caruban Nagari’ (1720) oleh Pangéran Arya Cirebon , ….. bahwa pada saat Prabu Jaya Dewata menginspeksi daerah-daerah kekuasaannya, sampailah ia di Pesantren Qura Karawang, yang pada waktu itu dipimpin oleh Syeikh Hasanuddin (ulama dari Campa) keturunan Cina. Di pesantren inilah ia bertemu dengan Subang Larang, salah seorang santri Syeikh Qura yang kelak dipersunting dan menjadi ibu dari Pangeran Walangsungsang, Ratu Lara Santang, dan Pangeran Kian Santang.
3. Mungkin yang terlihat cukup jauh mencolok adalah cerita yang terdapat dalam buku ‘Logenda Kian Santang’ di mana di kisahkan; pada waktu itu yaitu abad ke 5 M atau tahun 450 M, pernah ada seorang putra mahkota yang sakti mandraguna bernama Raden Gagak Lumayung yang dalam ceritanya di Tatar Sunda dan sekitarnya tak ada yang mampu mengalahkan ilmu kesaktiannya. hingga suatu saat datang pasukan dari dinasti Tang dari daratan Cina yang hendak menaklukkan kerajaan Taruma Nagara. Berkat Raden Gagak Lumayung, pasukan Tang dapat di halau dan tunggang-langgang meninggalkan Taruma Nagara. Sejak itu Raden Gagak Lumayung di beri gelar ”KI AN SAN TANG” atau yang artinya ”Penakluk Pasukan Tang”.
4. Dan masih ada beberapa versi lainnya yang lemah sumber kepustakaannya.
5. Sedangkan cerita yang menjadi dasar tulisan ini diambil dari kitab Babad Godog, ’Naskah Carita Parahiyangan’ oleh Pangeran Wangsakerta (1518), Naskah ’Carita Ratu Pakuan’ ditulis kira2 akhir abad 17/18, didukung pula dengan beberapa sumber lisan dan tulisan2 pendukung akurat lainnya, dimana menurut saya lebih mendekati kebenaran tentang asal usul Prabu Kian Santang.

Sebelum saya memulai tulisan ini, satu pesan yang boleh saya sampaikan, bahwa akurat dan kebenarannya kembali kepada sahabat pembaca sekalian dalam menilainya…..
Selamat membaca cerita legenda yang fenomenal ini.

Sebagai catatan yang patut disimak bahwa nama SILIWANGI adalah sebuah Gelar bukan nama pribadi raja, seperti tertuang dalam kropak 630 Naskah Carita Parahiyangan oleh Pangeran Wangsakerta, nama Siliwangi ditulis sebagai lakon pantun. Naskah ini ditulis tahun 1518. Menurut tradisi lama orang segan atau tidak boleh menyebut gelar raja yang sesungguhnya, maka juru pantun mempopulerkan sebutan Siliwangi. Dengan nama itulah ia dikenal dalam literatur Sunda. Wangsakerta pun mengungkapkan bahwa Siliwangi bukan nama pribadi, ia menulis: “Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon wwang sakweh ika wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga nira” (Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama pribadinya).

Tercatat 3 Prabu Pajajaran yang memiliki gelar Siliwangi, yaitu;
1. Prabu Maharaja Lingga Buana (berkuasa pada tahun 1350-1357)
Dalam Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara II/2 dikatakan bahwa Prabu Maharaja Lingga Buana yang gugur di Bubat digelari SILIWANGI. Tulisan lengkapnya berisi (artinya saja): “Di medan perang Bubat ia banyak membinasakan musuhnya karena Prabu Maharaja sangat menguasai ilmu senjata dan mahir berperang, tidak mau negaranya diperintah dan dijajah orang lain. Ia berani menghadapi pasukan besar Majapahit yang dipimpin oleh sang Patih Mada yang jumlahnya tidak terhitung. Oleh karena itu, ia bersama semua pengiringnya gugur tidak tersisa. Ia senantiasa mengharapkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyatnya di seluruh bumi Jawa Barat. Kemashurannya sampai kepada beberapa negara di pulau-pulau Dwipantara atau Nusantara namanya yang lain. Kemashuran Sang Prabu Maharaja membangkitkan (rasa bangga kepada) keluarga, menteri-menteri kerajaan, angkatan perang dan rakyat Jawa Barat. Oleh karena itu namanya Prabu Maharaja mewangi (PRABU SILIWANGI)

2. Wastu Kancana (berkuasa pada tahun 1467-1474) dikenal sebagai Prabu Wangisutah sebagaimana ditulis oleh Pangeran Wangsakerta penyusunan Sejarah Nusantara. Gelar selengkapnya adalah Sri Baduga Maharaja Prabu Wangi Anggalarang (PRABU SILIWANGI)

3. Raden Pamana Rasa dikenal sebagai Prabu Jaya Dewata (berkuasa pada tahun 1482-1514) dengan gelar Sri Baduga Maharaja Dewataprana Prabu Guru Ratu Aji (PRABU SILIWANGI)

Sebagaimana halnya dengan nama Prabu Siliwangi, Kian Santang merupakan salah satu tokoh yang dianggap misterius. Nama Kian Santang sangat terkenal dalam sejarah dakwah Islam di tatar Sunda bagian pedalaman. Beliau dikenal juga dengan nama lain seperti Gagak Lumayung, Bratalegawa, Galantrang Setra, Pangeran Gagak Lumiring, Pangeran Lumajang Kudratullah, Haji Bahruddin al Jawi, Sunan Rahmat, Sunan Bidayah atau Sunan Godog.

Bukti-bukti fisik yang menjadi saksi bisu syiar Islam Kian Santang yang sampai kini masih dapat ditemui adalah berupa sebuah kitab Al-Qur’an yang ada di Balubur, Limbangan, Garut, sebuah Sekin (pisau Arab) yang berada di desa Cinunuk, Wanaraja, Garut, sebuah Tongkat yang berada di Darmaraja, dan sebuah Kandaga (peti) yang berada di Godog, Karangpawitan, Garut

Pada abad ke-13, Kerajaan Galuh Pajajaran beribukota di Kawali, pada zaman inilah Kian Santang lahir. Beliau adalah putera Prabu Guru Pangandiparamarta Jayadewabrata atau Prabu Bunisora yang dikenal dengan nama Mangkubumi Suradipati ada juga yang menyebutnya dengan nama Prabu Kuda Lalean.
Prabu Bunisora adalah adik Prabu Linggabuana lain ibu. Ketika kecil Kian Santang bernama Bratalegawa. Ia lahir tahun 1272 Saka (1350 M), ia memiliki kakak bernama Mayangsari (kelak menjadi isteri Wastu Kancana) dan Giridewata atau Ki Gedeng Kasmaya. Ini berarti Kian Santang nama yang kemudian dipakainya ketika berkelana, bersaudara sepupu dengan Wastu Kancana (Prabu Siliwangi II), dan paman dari Ningrat Kancana (Dewa Niskala) dan Susuk Nunggal, kakek dari Jayadewata (Prabu Siliwangi III, putera Dewa Niskala) dan Munding Kawati (putera Susuk Nunggal) atau uyut dari Walangsungsang dan Rara Santang.

Diusia 22 tahun Kian Santang diangkat menjadi Dalem Bogor kedua. Namun karena darah pengelananya yang kuat maka ia tinggalkan jabatan tersebut dan lebih memilih hidup sebagai pengelana yang haus akan ilmu bela diri dan kebatinan.

Kian Santang rajin belajar dan berguru kepada para resi, sehingga ia memiliki berbagai ilmu dan kesaktian. Pengelanaannya ini tidak hanya terbatas di dalam wilayah Pajajaran saja, namun sampai keluar kerajaan seperti ke Sumatra, Cina, India, Srilangka, Iran, bahkan sampai ke negeri Arab. Ketika di Mekah, konon diceritakan bahwa Kian Santang bertemu secara ’ghoib’ dengan Sayidina Ali kw, dalam ’pertemuan’ tersebut Sayidina Ali meminta Kian Santang untuk mencabut tongkat yang ditancapkan oleh Sayyidina Ali dan ternyata Kian Santang tidak mampu mencabut tongkat tersebut, lalu Sayidina Ali memberikan saran agar Kian Santang mau masuk Islam. Akhirnya Kian Santang masuk Islam. Lalu Kian Santang membaca kalimat Syahadat dan keajaibanpun terjadi tongkat yang tertancap tersebut dengan mudah dapat dicabut oleh Kian Santang. (Catatan; Jadi bukan Prabu Borosngora ataupun Walangsungsang yang bertemu secara ’ghoib’ dengan Sayidina Ali kw).

Setelah pertemuan ’ghoib’ tersebut Kian Santang mempelajari Islam dengan tekun di Mekah dan dilanjutkan dengan ibadah haji, ia mendapat julukan Bahruddin lengkapnya Haji Bahruddin al Jawi. Disana pula ia kemudian menikah dengan seorang muslimah dari Gujarat bernama Farhana binti Muhammad. Dari perkawinan dengan Farhana binti Muhammad, Kian Santang memperoleh putera bernama Ahmad yang kemudian dikenal dengan sebutan Maulana Safiuddin.

Ia bermukim di Mekah selama 14 tahun. Merasa sudah cukup menekuni ajaran agama Islam, kemudian beliau kembali ke Pajajaran. Sewaktu akan pulang lagi ke Jawa, oleh gurunya sekaligus ayah mertuanya yang bernama Muhammad, Kian Santang dibekali tanah Mekah yang dimasukan ke dalam peti. Di dalam peti itu diletakkan pula sebuah buli-buli berisi air zam-zam. Gurunya berpesan bahwa kelak Kian Santang akan mendapat ilham untuk uzlah (pindah dari tempat yang ramai ketempat yang sepi), maka bila waktu uzlah itu tiba Kian Santang harus membawa peti tersebut dalam perjalanan uzlahnya. Apa bila peti itu gesah/godog (bergoyang/bergerak) di suatu tempat dalam perjalanan uzlah-nya, maka itulah tandanya Kian Santang mesti berhenti.

Sebagai muslim pertama di Kerajaan Galuh (Kawali), ia lebih dikenal dengan nama Haji Purwa Galuh atau Haji Purwa (haji pertama). Hal ini tertuang dalam naskah Carita Parahiyangan, bahwa diceritakan ada seorang pemeluk agama Islam yang pertama kali di tatar Sunda bernama Bratalegawa.

Tidak lama dari kepulangannya Kian Santang diangkat menjadi Raja Pajajaran menggantikan Prabu Munding Kawati atau Prabu Anapakem I karena sakit. Namun jabatan inipun tidak berlangsung lama, karena Prabu Kian Santang kemudian mendapat ilham untuk uzlah seperti yang dikatakan gurunya ketika masih di Mekah.
Maka Prabu Kian Santang menyerahkan tahta kerajaan kepada Prabu Panatayuda putra tunggal Prabu Munding Kawati yang masih remaja.(Catatan: Ini terjadi sebelum Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dipersatukan kembali oleh Jayadewata)

Dalam perjalanan uzlah-nya yang dituju pertama kali adalah gunung Ceremai. Tiba disana lalu peti disimpan diatas tanah, namun peti itu tidak godeg alias berubah. Lalu Kian Santang kemudian berangkat lagi ke gunung Tasikmalaya, disana juga peti tidak berubah. Akhirnya Kian Santang memutuskan untuk berangkat ke gunung Suci Garut. Setibanya di gunung Suci Garut peti itu disimpan diatas tanah dan keajaibanpun terjadi peti tersebut secara tiba-tiba gesah/godog (bergoyang/bergerak).

Dengan godognya peti tersebut, itu berarti petunjuk kepada Kian Santang bahwa ditempat itulah, beliau harus tafakur untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tempat itu kini diberi nama Godog Suci. Ditempat ini kemudian berdiri sebuah Masjid yang diberi nama Masjid Pusaka Karamat Godog yang berjarak dari makam godog sekitar kurang lebih 1 Km. Prabu Kian Santang kemudian berganti nama menjadi Syekh Sunan Rohmat Suci

Syekh Sunan Rohmat Suci menyiarkan Islam selama 19 tahun. Mula-mula ia mengislamkan raja-raja lokal, seperti Raja Galuh Pakuwon yang terletak di Limbangan, bernama Prabu Wijayakusumah atau Sunan Pancer (Cipancar) sebutan setelah masuk Islam. Sunan Rohmat kemudian menghadiahkan kepada Sunan Pancer satu buah al-Qur’an berukuran besar dan sebuak Sekin yang bertuliskan lafadz al-Qur’an ”la ikroha fiddin”. Berkat Sunan Pancer, Islam dapat berkembang luas di daerah Galuh Pakuwon.
Para petinggi dan raja-raja lokal lainnya yang secara langsung diIslamkan oleh Sunan Rohmat di antaranya ialah; (1) Santowan Suci Mareja (makamnya terletak dekat makam Sunan Rohmat); 2) Sunan Sirapuji (Raja Panembong, Bayongbong); 3) Sunan Batuwangi yang sekarang terletak di kecamatan Singajaya (ia dihadiahi Tombak oleh Sunan Rohmat dan sekarang berada di Darmaraja).

Seberjalanannya syiar Islamnya Sunan Rohmat kemudian menikah lagi dengan Nyi Puger Wangi yang berasal dari Puger. Dari pernikahannya dengan Nyi Puger Wangi, Sunan Rohmat mendapatkan anak kembar, kedua-duanya laki-laki, kakaknya bernama Ali Muhammad dan adiknya Ali Akbar.

Syeh Sunan Rohmat Suci wafat dan dimakamkan di Godog Keramat yang sampai sekarang dinamakan Makam Sunan Rohmat Suci atau Makam Karamat Godog.

Wallahualam bi sowab

Daftar Pustaka
• Didi Suryadi. 1977. Babad Limbangan.
• Edi S. Ekajati. 1992. Sejarah Lokal Jawa Barat. Jakarta: Interumas Sejahtera.
• _________. 1995. Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarahi). Jakarta: Pustaka Jaya.
• Hamka. 1960. Sejarah Umat Islam. Jakarta: Nusantara.
• Pemerintahan Propinsi Jawa Barat. 1983. Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat.
• Sulaemen Anggadiparaja. T.T. Sejarah Garut Dari Masa Ke Masa. Diktat.
• Yuyus Suherman. 1995. Sejarah Perintisan Penyebaran Islam di Tatar Sunda. Bandung: Pustaka.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: