NAPAK TILAS KEMASYURAN KERAJAAN PAJAJARAN V

Akhirnya kita sampai dipenghujung perjalanan dari NAPAK TILAS KEMASYURAN KERAJAAN PAJAJARAN di kota Majalengka dan Cirebon.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para sahabat KETAKA FATIKA MIRA dalam menambah ilmu dan hikmah kehidupan.
Besar harapan saya bila sahabat ada yang mungkin bersedia memberikan kritik ataupun masukan atas tulisan ini. Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih atas partisipasinya.

MAJALENGKA
Hutan ”Prabu Siliwangi”
Hutan seluas 4 hektar ini, memang menarik untuk dikunjungi. Di hutan ini terdapat dua mata air dengan debit air yang cukup besar, yaitu mata air Cikontolor dan Cibeber. Air Cikontolor yang disebut susukan lalakina, terasa agak keras, berbeda dengan air Cibeber yang konon terasa agak lembut. Kedua sungai ini kemudian membentuk danau yang cukup besar, yaitu Danau Cipadung dan Danau Cihikeu.
Tak jauh dari kedua mata air tersebut terdapat mata air kecil yang bernama sumur Sijalatunda. Konon air dari sumur ini dipercayai bisa membuat seseorang awet muda atau makin cantik dan ganteng.
Baik di sungai yang airnya cukup deras maupun di bagian danaunya, pengunjung akan terpesona oleh kilauan ikan-ikan yang berenang hilir mudik mengarungi arus sungai. Ikan-ikan di sungai ini memang merupakan ikan alam. Seperti ikan hikeu, beunteur, kehkel , paray, dan genggehek.
Pada musim-musim tertentu kawasan hutan ini pun dihuni juga oleh beberapa ekor kera dan lutung. Hanya untuk lutung yang berbulu hitam, memang agak susah kita menemukannya. Konon lutung ini agak dikeramatkan sebab ada hubungannya dengan kisah Lutung Kasarung penjelmaan dari Raden Guruminda yang kemudian mempersunting Dewi Purbasari, putri bungsu Prabu Tapa Ageung, Raja Pasirbatang.

Di hutan inilah salah seorang putra Prabu Dewa Niskala yang bernama Raja Haji atau Rakean Mundingwangi, dimakamkan. Orang pun menyebutnya sebagai makam Prabu Haji atau makam Prabu Mundingwangi.

Untuk masuk ke kawasan wisata Leuweung Prabu Siliwangi ini, memang agak sulit karena tidak tampak dari luar. Bagi yang menggunakan kendaraan umum jurusan Rajagaluh – Garawastu, setelah melalui jalanan menanjak dan rusak sejauh 7 km, kita turun di depan balai desa Pajajar. Di sebelah kiri balai desa ada gang kecil sebagai pintu masuk ke lokasi wisata ini. Setelah berjalan sekitar 50 meter barulah terlihat gerbang leuweung wisata ini.
Walaupun kawasan ini telah menjadi objek wisata yang banyak dikunjungi wisata lokal dari Cirebon, Sumedang, dan Kuningan, namun makam Prabu Siliwangi masih tetap dijiarahi beberapa orang yang memiliki keyakinan tertentu.

CIREBON …

A. Makam Sunan Gunung Jati
Selama ini orang percaya bahwa yang bergelar Sunan Gunung Jati hanyalah Syekh Syarif Hidayatullah, ini adalah versi Wali Songo. Tetapi sebenarnya gelar tersebut juga diberikan oleh rakyat Cirebon dan sekitarnya kepada Pangeran Cakrabuana alias Sri Manggana alias Walangsungsang dan Syekh Dzatul Kahfi atau Syekh Datuk Kahfi. Gelar ini diberikan karena ketiga orang inilah yang dianggap merupakan penyebar Islam mula-mula di Jawa Barat. Sehingga bila diurutkan adalah sebagai berikut:
1. Sunan Gunung Jati I adalah Syekh Dzatul Kahfi atau Syekh Datuk Kahfi 2. Sunan Gunung Jati II adalah Pangeran Cakrabuana alias Sri Manggana alias Walangsungsang
3. Sunan Gunung Jati III adalah Syekh Syarif Hidayatullah

1. Sunan Gunung Jati I adalah Syekh Dzatul Kahfi atau Syekh Datuk Kahfi Sebelum era Syekh Syarif Hidayatullah berdakwah di Jawa Barat. Ada seorang ulama besar dari Bagdad telah datang di daerah Cirebon bersama duapuluh dua orang muridnya. Ulama besar itu bernama Syekh Kahfi. Ulama inilah yang lebih dahulu menyiarkan agama Islam di sekitar daerah Cirebon.
Pangeran Walangsungsang dan adiknya Nyai Rara Santang serta Syekh Syarif Hidayatullah berguru kepada Syekh Datuk Kahfi di Gunung Jati
Makam Syekh Datuk Kahfi terletak di di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati

2. Sunan Gunung Jati II adalah Pangeran Cakrabuana alias Sri Manggana alias Walangsungsang
Al-Kisah, dua anak dari Sri Baduga Maharaja, atau dikenal juga sebagai Prabu Siliwangi dari perkawinannya dengan Nyai Subang Larang dari Pajajaran bernama Pangeran Walangsungsang dan adiknya Nyai Rara Santang pada suatu malam mendapat mimpi yang sama. Wajah Nabi Muhammad yang agung dan caranya menerangkan Islam demikian mempersona. Mimpi itu terulang hingga tiga kali.
Kebetulan mereka telah mendengar adanya Syekh Dzatul Kahfi atau lebih muda disebut Syekh Datuk Kahfi yang membuka perguruan Islam di Cirebon. Mereka mengutarakan maksudnya kepada Prabu Siliwangi untuk berguru kepada Syekh Datuk Kahfi. Tapi keinginan mereka ditolak oleh Prabu Siliwangi. Pangeran Walangsungsang dan adiknya nekad, keduanya melarikan diri dari istana dan pergi berguru kepada Syekh Datuk Kahfi di Gunung Jati.
Setelah berguru beberapa lama di Gunung Jati, Pangeran Walangsungsang diperintahkan oleh Syekh Datuk Kahfi untuk membuka hutan di bagian selatan Gunung Jati. Daerah itu dijadikan pedukuhan yang makin hari banyak orang berdatangan menetap dan menjadi pengikut Pangeran Walangsungsang. Setelah daerah itu menjadi ramai Pangeran Walangsungsang pun diangkat sebagai kepala Dukuh dengan gelar Cakrabuana. Daerahnya dinamakan Tegal Alang-alang.
Orang yang menetap di Tegal Alang-alang terdiri dari berbagai ras atau keturunan, banyak pula pedagang asing yang menjadi penduduk tersebut, sehingga terjadilah pembauran dari berbagai ras dan pencampuran itu dalam bahasa Sunda disebut Caruban. Maka Tegal Alang-alang disebut Caruban atau Carbon.
Dalam waktu singkat Negeri Caruban Larang telah terkenal ke seluruh Tanah Jawa, terdengar pula oleh Prabu Siliwangi selaku penguasa daerah Jawa Barat. Setelah mengetahui negeri baru tersebut dipimpin putranya sendiri, maka sang Raja tidak keberatan walau hatinya kurang berkenan. Sang Prabu akhirnya merestui tampuk pemerintahan putranya,dan memberinya gelar Sri Manggana.
Sebagian besar rakyat Caruban mata pencariannya adalah mencari udang kemudian dibuatnya menjadi petis yang terkenal.Dalam bahasa Sunda Petis dari air udang itu, Cai Rebon. Daerah Carubanpun kemudian lebih dikenal sebagai Cirebon hingga sekarang ini.
Makam Pangeran Cakrabuana alias Sri Manggana alias Walangsungsang terletak berdampingan dengan Syekh Syarif Hidayatullah. Lokasi ini merupakan komplek pemakaman bagi keluarga Keraton Cirebon, di Karang Sembung, terletak + 6 Km ke arah Utara dari Kota Cirebon.

3. Sunan Gunung Jati III adalah Syekh Syarif Hidayatullah Ibunda Syekh Syarif Hidayatullah adalah Nyai Rara Santang, anak dari Prabu Siliwangi dari perkawinannya dengan Nyai Subang Larang. Sedangkan ayahnya adalah seorang Raja Mesir bernama Sultan Syarif Abdullah.
Pada buku Babad Cirebon disebutkan ketika Pangeran Cakrabuana membangun kota Cirebon dan tidak mempunyai pewaris, maka Shekh Syarif Hidayatullah mengambil peranan menjadi pemimpin menggantikan pamannya.
Pada awal abad 16, seiring masuknya Portugis di Pasai dan Malaka, Raja Pakuan merasa mendapat sekutu karena kekuatan kerajaan Pajajaran sangat lemah di laut. Hal ini untuk mengurangi pengaruh Shekh Syarif Hidayatullah yang telah berkembang di Cirebon dan Banten. Hanya Sunda Kelapa yang masih dalam kekuasaan kerajaan Pajajaran.
Hal ini memaksa Syekh Syarif Hidayatullah merombak Pimpinan Armada Gabungan dan mengangkat Tubagus Pasai (belakangan dikenal dengan nama Fatahillah atau Fadhilah Khan dan ada juga yang menyebutnya Falatehan), sebagai Panglima dan menyusun strategi baru untuk memancing Portugis bertempur di Pulau Jawa.
Tahun 1527 bulan Juni Armada Portugis datang dihantam serangan dahsyat dari Pasukan Islam pimpinan Fatahillah. Dengan ini jatuhlah Sunda Kelapa secara resmi ke dalam Kesultanan Banten-Cirebon dan di rubah nama menjadi Jayakarta (sekarang Jakarta) dan Tubagus Pasai mendapat gelar Fatahillah.
Diriwayatkan dalam perundingan terakhir dengan para Pembesar istana Pakuan, Syekh Syarif Hidayatullah memberikan 2 opsi.
1. Pembesar Istana Pakuan yang bersedia masuk Islam akan dijaga kedudukan dan martabatnya seperti gelar Pangeran, Putri atau Panglima dan dipersilakan tetap tinggal di keraton masing-masing. 2. Bagi yang tidak bersedia masuk Islam maka harus keluar dari ibukota Pakuan untuk diberikan tempat di pedalaman Banten wilayah Cibeo sekarang.
Hasil perundingan berakhir denagn, sebagian besar para Pangeran dan Putri Raja menerima opsi ke 1. Sedang Pasukan Kawal Istana dan Panglimanya (sebanyak 40 orang) yang merupakan Korps Elite dari Angkatan Darat Pakuan memilih opsi ke 2. Mereka inilah cikal bakal penduduk Baduy Dalam sekarang yang terus menjaga anggota pemukiman hanya sebanyak 40 keluarga karena keturunan dari 40 pengawal istana Pakuan. Anggota yang tidak terpilih harus pindah ke pemukiman Baduy Luar.
Yang menjadi perdebatan para ahli hingga kini adalah opsi ke 3 yang diminta Para Pendeta Sunda Wiwitan. Mereka menolak opsi pertama dan ke 2. Dengan kata lain mereka ingin tetap memeluk agama Sunda Wiwitan (aliran Hindu di wilayah Pakuan) tetapi tetap bermukim di dalam wilayah Istana Pakuan.
Sejarah membuktikan hingga penyelidikan yang dilakukan para Arkeolog asing ketika masa penjajahan Belanda, bahwa istana Pakuan dinyatakan hilang karena tidak ditemukan sisa-sisa reruntuhannya. Sebagian riwayat yang diyakini kaum Sufi menyatakan dengan kemampuan yang diberikan Allah karena doa seorang Ulama yang sudah sangat sepuh sangat mudah dikabulkan, Syekh Syarif Hidayatullah telah memindahkan istana Pakuan ke alam ghaib sehubungan dengan kerasnya penolakan Para Pendeta Sunda Wiwitan untuk tidak menerima Islam ataupun sekadar keluar dari wilayah Istana Pakuan. ( Wallahu a’lam ).
Syekh Syarif Hidayatullah adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Pada usia 89 tahun, Syekh Syarif Hidayatullah mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Syekh Syarif Hidayatullah wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon.
Makam Syekh Syarif Hidayatullah dihiasi dengan keramik buatan Cina jaman Dinasti Ming, berdampingan dengan makam pamannya Pangeran Cakrabuana dan makam Fatahilah. Lokasi makam terletak di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat. Merupakan komplek pemakaman bagi keluarga Keraton Cirebon.

B. Keraton Cirebon
Terdapat tiga Keraton di Cirebon. Ciri ketiga keraton di Cirebon sangatlah jelas. Ciri pertama, bangunan keraton selalu menghadap ke utara. Di sebelah timur keraton selalu ada masjid. Setiap keraton selalu menyediakan alun-alun sebagai tempat rakyat berkumpul dan pasar. Di taman setiap keraton selalu ada patung macan sebagai perlambang dari Prabu Siliwangi, tokoh sentral terbentuknya Cirebon.
Dan yang menjadi ciri utama adalah piring-piring porselen asli Tiongkok yang menjadi penghias dinding semua keraton di Cirebon. Tak cuma di keraton, piring-piring keramik itu bertebaran hampir di seluruh situs bersejarah di Cirebon.

Keraton Kacirebonan Ciri-ciri yang tersebut diatas melekat kuat pada keraton yang satu ini. Namun, masjid sebagai simbol ketaatan penghuni keraton pada agama Islam tak terlihat menjadi bagian dari keraton itu sendiri. Masjidnya kecil dan nyaris tak terawat. Alun-alun pun hanya berupa hamparan tanah merah yang tak jelas fungsinya.
Yang mengagetkan, aset-aset Keraton Kacirebonan banyak yang sudah tak jelas nasibnya. Bagian-bagian ruangan keraton pun sudah ”diambil-alih” oleh sanak famili dari Abdul Gani Natadiningrat, Sultan yang terakhir. Kursi-kursi tua yang sangat khas malah teronggok tak berdaya di sebuah sudut kamar yang rupanya bekas kamar mandi umum untuk wisatawan. Satu benda bersejarah yang berumur sekitar 100 tahun dan masih terpelihara dengan rapih adalah kursi pelaminan yang biasa dipakai para sultan. Patung macan sebagai perlambang Prabu Siliwangi malah hampir-hampir tak terlihat karena tak terawat dan tertutup semak-semak.

Keraton Kasepuhan
Lokasinya terletak di Kecamatan Lemahwungkuk Kota Cirebon. Untuk sampai ke sana, dari Jalan Lemah Wungkuk kita dapat berjalan ke arah Selatan, lalu berjalan lurus, sejenak kita akan berpapasan dengan Alun-alun Keraton Kasepuhan.
Dari ketiga keraton yang ada di Cirebon, Kasepuhan adalah keraton yang paling terawat, paling megah, dan paling bermakna dalam.
Tembok yang mengelilingi keraton terbuat dari bata merah khas arsitektur Jawa.
Keraton Kasepuhan yang dibangun sekitar tahun 1529 sebagai perluasan dari Keraton tertua di Cirebon, Pakungwati, yang dibangun oleh Pangeran Cakrabuana, pendiri Cirebon pada 1445. Tembok yang mengelilingi keraton terbuat dari bata merah khas arsitektur Jawa.
Keraton Pakungwati terletak di belakang Keraton Kasepuhan. Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang ada dalam kompleks Keraton Kasepuhan begitu indah. Masjid Agung itu berdiri pada tahun 1549.
Keraton ini juga memiliki kereta yang dikeramatkan, Kereta Singa Barong. Pada tahun 1942, kereta ini tidak boleh dipergunakan lagi, dan hanya dikeluarkan pada tiap 1 Syawal untuk dimandikan.
Penguasa pertama di Keraton Kasepuhan adalah Syekh Syarief Hidayattulah yang dikenal juga dengan sebutan Sunan Gunung Jati.
Gua Sunyaragi
Merupakan salah satu benda cagar budaya yang berada di Kota Cirebon. Gua Sunyaragi disebut pula Taman Air Sunyaragi karena pada jaman dahulu kompleks gua tersebut dikelilingi oleh danau yaitu Danau Jati selain itu gua tersebut banyak terdapat air terjun buatan sebagai penghias gua tersebut. Gua Sunyaragi merupakan salah satu bagian dari keraton Pakungwati sekarang bernama keraton Kasepuhan. Sunyaragi berasal dari kata sunya yang artinya adalah sepi dan ragi yang berarti raga, karena tujuan utama didirikannya gua tersebut adalah sebagai tempat beristirahat dan meditasi para Sultan dan keluarganya.

Keraton Kanoman
Keraton ini memang berumur lebih muda dari Kasepuhan. Kanoman berasal dari kata ”anom” yang bermakna ”muda”. Ditempat inilah Panembahan Adiningkusumah memerintah.
Pada tahun 1662, Amangkurat I mengundang Panembahan Adiningkusumah untuk datang ke Mataram di samping untuk menghormatinya juga mempertanggungjawabkan sikapnya terhadap Banten dan juga Mataram. Disertai oleh kedua orang putranya, Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya, ia memenuhi undangan tersebut.
Namun, setelah upacara penghormatan selesai, mereka tidak diperkenankan kembali ke Cirebon, melainkan harus tetap tinggal di Ibu Kota Mataram dan diberi tempat kediaman yang layak serta tetap diakui sebagai penguasa Cirebon. Sejak itulah Keraton Kanoman tidak terawat dengan semestinya.
Keraton Kanoman menyimpan kembaran dari Kereta Singa Barong yang ada di Kasepuhan bernama Paksi Naga Liman. Ketidak terawatnya kompleks keraton dapat dilihat dengan telah tertutupnya kompleks oleh pasar rakyat yang sebetulnya menjadi bagian dari keraton itu sendiri. Alun-alun utamanya (bagian tengahnya terdapat pohon beringin raksasa) kini disesaki bangunan pasar. Wisatawan pasti lebih mengenalnya sebagai Pasar Kanoman, bukan tanah keraton. Pintu masuk utamanya berfungsi pula sebagai pintu masuk pasar tradisional, yang becek bukan main jika turun hujan. Tembok-tembok merah seputar keraton, kotor berlumut.

SELESAI

Informasi Napak Tilas Kemasyuran Kerajaan Pajajaran

Tulisan ini adalah untuk menjawab pertanyaan yang berkisar tentang mengapa Banten dan sekitarnya tidak ikut melengkapi catatan NTKKP.

Sebagaimana diketahui bahwa Kesultanan Banten adalah perluasan Kesultanan Cirebon dibawah Syeikh Syarif Hidayatullah. Ini berarti Banten baru dibicarakan setelah Islam masuk kedaerah ini. Jelaslah disini bahwa Banten tidak ada kaitan langsung dalam Masyurnya Kerajaan Pajajaran.

Untuk Tatar Kemasyuran Kesultanan Banten, secepatnya akan segera saya kirimkan.
Terimakasih banyak atas minat dan perhatiannya atas tulisan2 yang telah saya kirimkan, semoga tulisan2 tsb. lebih menambah wawasan dan ilmu para pemerhati KFM semua.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: